bab 12,, ringkasan dan simpulan.. kelas xi smk

Membuat Ringkasan

Ringkasan

Ringkasan adalah penyajian bacaan dalam bentuk singkat dengan mempertahankan urutan isi dan sudut pandang / memendekkan bacaan dengan mengambil inti sari bacaan itu tanpa mengubah struktur wacana.

Langkah – langkah membuat ringkasan bacaan :

  1. Membaca bacaan atau karangan asli untuk mengetahui kesan umu, maksud pengarang,
  2. Mencatat gagasan utama atau pokok pikiran dalam tiap paragraf,
  3. Menyusun pokok pikiran atau gagasan pokok bacaan menjadi suatu paragraf atau lebih.

Ciri – ciri ringkasan :

  1. Memendekkan suatu bacaan,
  2. Bentuknya lebih pendek atau lebih ringkas,
  3. Struktural wacananya tetap tidak berubah sesuai dengan teks bacaan,
  4. Terdapat inti sari bacaan.

Rangkuman

Sebenarnya rangkuman itu tidak jauh beda dengan ikhtisar dan ringkasan. Oleh sebab itu, rangkuman adalah membuat ringkasan atau ikhtisar dari apa yang telah diuraikan (dipercakapkan).

Ciri – Ciri Rangkuman :

  1. Memendekkan suatu bacaan,
  2. Berupa ringkasan dari wacana / bacaan.

Ikhtisar

Ikhtisar adalah memendekkan suatu bacaan dengan mengambil bagian penting tanpa harus terikat pada struktur wacana yang diikhtisarkan.

Ikhtisar dapat dinyatakan dalam bentuk kalimat, selain itu ikhtisar juga dapat dinyatakan dalam bentuk bagan, kerangka, resume dan sebagainya.

Ciri – ciri ikhtisar :

  1. Memendekkan suatu bacaan,
  2. Berisi bagian – bagian penting dalam teks wacana,
  3. Tidak terikat dengan struktur wacana.

Menentukan Simpulan dan Isi Paragraf

 
Simpulan adalah hasil dari menyimpulkan (kesimpulan).
Kesimpulan adalah ikhtisar, pendapat terakhir yang berdasarkan pada uraian sebelumnya, dan keputusan yang diperoleh berdasarkan metode berpikir induktif atau deduktif. (Sumber: KBBI).
 
Metode Analisis:
 
         1          
         2          
         3          
         4          
         5          

Keterangan:
Pada bagan di atas, sebuah paragraf diibaratkan terdiri dari lima kalimat. Untuk menemukan simpulan dan isi paragraf tersebut, perhatikan langkah-langkah berikut ini:
1. Fokuskan perhatian kita pada kalimat terakhir (no.5), jika kalimat terakhir tersebut 
    mencakup keseluruhan ide pada paragraf tersebut, maka kalimat terakhir tersebut 
    merupakan Simpulan dari paragraf tersebut. 
2. Jika, pada kalimat terakhir tidak mencerminkan ide yang mencakup seluruh gagasan 
    dari paragraf tersebut, maka pengambilan kesimpulan dilakukan dengan menggunakan 
    kata-kata kunci yang tersebar pada seluruh paragraf tersebut. Simpulan juga dapat
    diketahui dengan menggunakan pertanyaan, Apa yang dibicarakan di dalam paragraf 
    tersebut. 
 
Contoh: 
Berbagai macam  industri menggunakan minyak bumi sebagai bahan bakar untuk menggerakan mesin-mesin pabrik. Alat-alat transportasi, baik darat, laut maupun udara juga menggunakan minyak bumi sebagai bahan bakarnya. Sumber energi lain, seperti gas bumi, batubara memang merupakan sumber energi yang penting pula. Namun,baik dilihat dari segi nilai ekonomis maupun praktis, minyak bumi masih merupakan sumber energi utama di samping gas bumi maupun batu bara. Sampai sekarang, minyak bumi masih merupakan energi yang utama.

 
Kalimat simpulan paragraf tersebut adalah ….
A. satu                   D.empat
B. dua                    E. lima
C. tiga

Pembahasan: 

Fokus pertama adalah pada kalimat nomor 5: Sampai sekarang, minyak bumi masih merupakan energi yang utama. Kalimat ini merupakan simpulan paragraf di atas karena seluruh kalimat membicarakan tentang minyak bumi sebagai bahan bakar energi. sementara di kalimat terakhir tampak jelas bahwa minyak bumi sebagai bahan energi utama.

POLA PENALARAN DALAM MENGAMBIL SIMPULAN

 

 


 
Perbedaan kesimpulan dan simpulan
Kesimpulan adalah ringkasan atau rangkuman dari suatu hal.
Simpulan adalah sesuatu yang disimpulkan atau  resume dari beberapa kesimpulan. 
 
Dalam mengambil simpulan, digunakan pola penalaran deduktif dan induktif.
1.   Penalaran Deduktif
Pola ini diawali dengan mengemukakan pernyataan yang umum lalu diikuti dengan pernyataan-pernyataan khusus. Penalaran deduktif terdiri atas, tiga bentuk berikut.
 
      a. Silogisme
Silogisme adalah proses pengambilan simpulan dengan mengungkapkan pernyataan yang bersifat umum (premis umum) disusul dengan pernyataan khusus (premis khusus).
Contoh:
PU : Semua peserta ujian diwajibkan mengenakan atribut dan seragam dari sekolah asalnya.
PK : Susi adalah salah seorang peserta ujian.
K   : Susi wajib mengenakan atribut dan seragam sekolah asal.
 
b. Sebab-Akibat-Akibat
Pola ini diawali dengan pengungkapan fakta yang merupakan sebab, lalu disusul dengan simpulan yang berupa akibat.
Contoh :
Masyarakat kita masih rendah tingkat kedisiplinannya. Masih banyak penduduk yang membuang sampah di selokan dan di kali. Sehingga saat datang musim hujan, banjir melandanya
 
     c. Akibat-Sebab-Sebab
Pola ini dimulai dengan pernyataan yang merupakan akibat, kemudian ditelusuri penyebabnya.
Contoh:
Dua dari tiga remaja di kota-kota besar di Indonesia menurut penelitian,. telah terlibat pergaulan bebas. Kebanyakan dari mereka terpengaruh oleh budaya Barat yang bebas.
 
 
 
2. Penalaran Induktif
Pola penalaran ini bermula dari pengungkapan hal-hal yang khusus, kemudian yang bersifat umum.
 
Berikut adalah pola-pola penalaran induktif.
      a.  Generalisasi
Generalisasi ialah pengambilan simpulan umum berdasarkan fakta dan data yang bersifat khusus. Data dan fakta diperoleh melalui penilaian, pengamatan, atau hasil survei.
 
Contoh:
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan kepada SMA Teladan saat mereka melaksanakan upacara, pakaiannya seragam dan tertib .
 
      b.   Sebab-Sebab-Akibat
Pola ini dimulai dengan mengemukakan fakta-fakta yang menjadi sebab, lalu ditarik simpulan yang merupakan akibat.
Contoh:
Hutan banyak ditebangi secara ilegal,  terjadi kebakaran hutan di mana-mana. Akibatnya, setiap datang musim hujan , bencana longsor terjadi.
 
      c. Akibat-Akibat-Sebab
Pola ini dimulai dengan mengungkapkan fakta-fakta yang merupakan akibat lalu dikemukakan peristiwa yang menjadi penyebabnya.
Contoh:
Ketika hujan, banjir melanda di mana-mana. Para penduduk mengungsi di tempat yang tinggi. Mereka harus menunggu air surut kembali. Ini disebabkan saluran air tersumbat oleh sampah yang dibuang warga sembarangan.
 
      d. Analogi
Analogi ialah pengambilan simpulan dengan mengambil kesamaan dari suatu hal yang diperbandingkan dan  dianggap memiliki kesamaan sifat dasarnya.
Contoh:
Seorang yang menuntut ilmu sama halnya dengan mendaki gunung. Sewaktu mendaki, ada saja rintangan seperti jalan yang licin yang membuat seseorang jatuh. Begitu pula bila menuntut ilmu seseorang akan mengalami rintangan seperti kesulitan ekonomi, kesulitan memahami pelajaran, dan sebagainya. Apakah dia sanggup melaluinya ? Jadi, menuntut ilmu sama saja halnya dengan mendaki gunung untuk mencapai puncaknya.

Gagasan Pokok, Simpulan, Makna Istilah, Kalimat Penjelas

 

Kompetensi : Membaca berbagai informasi tertulis dalam konteks bermasyarakat dan berbagai bentuk teks.
Indikator : Menentukan gagasan pokok, simpulan, makna istilah, kalimat penjelas, pernyataan yang sesuai dengan isi paragraf.

Gagasan pokok adalah pokok masalah yang mendasari cerita yang bersifat abstrak/implisit atau kata-kata kunci yang terdapat dalam kalimat utama. Gagasan pokok merupakan gagasan yang menjiwai paragraf. Gagasan pokok dapat mudah ditemukan dengan menjawab pertanyaan „Paragraf tersebut membahas mengenai apa?“, jawaban pertanyaan tersebut merupakan gagasan pokok.

Simpulan adalah suatu pernyataan yang dibuat berdasarkan ide pokok dan kata kunci dari kalimat penjelas dengan kalimat sendiri. Intinya kalau simpulan kata-katanya tidk harus sama persis dengan paragraf yang ada di soal.

Makna kata atau istilah
Kata adalah satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri, dapat diujarkan sebagai bentuk bebas. Sedangkan istilah adalah kata atau gabungan kata yang dengan cermat mengungkapkan suatu konsep, keadaan atau sifat yang khas dalam bidang tertentu.
Istilah ada yang berupa kata ada pula yang berupa idiom atau ungkapan. Idiom adalah gabungan kata yang membentuk kesatuan arti baru sehingga sering tidak dapat ditelusuri artinya berdasarkan arti unsur pembentuknya. Ungkapan adalah kelompok kata atau perkataan yang bersifat tetap da digunakan untuk menyatakan suatu maksud dengan arti kiasan.

Kalimat penjelas adalah pernyataan khusus, perincian atau bagian-bagian yang menunjang / menjelaskan kalimat utama.

PENGERTIAN RANGKUMAN (RINGKASAN)
Rangkuman dapat diartikan sebagai suatu hasil merangkum atau meringkas suatu tulisan atau pembicaraan menjadi suatu uraian yang lebih singkat dengan perbandingan secara proporsional antara bagian yang dirangkum dengan rangkumannya (Djuharni, 2001). Rangkuman dapat pula diartikan sebagai hasil merangkai atau menyatukan pokok-pokok pembicaraan atau tulisan yang terpencar dalam bentuk pokok-pokoknya saja. Rangkuman sering disebut juga ringkasan, yaitu bentuk ringkas dari suatu uraian atau pembicaraan Pada tulisan jenis rangkuman, urutan isi bagian demi bagian, dan sudut pandang (pendapat) pengarang tetap diperhatikan dan dipertahankan.
CARA MEMBUAT RANGKUMAN DAN IKHTISAR
Merangkum atau meringkas suatu bacaan bertujuan untuk menguji kemampuan penulis pemula dalam menemukan pokok-pokok permasalahan sebuah tulisan, kemudian menyusun kembali dalam sebuah tulisan yang lebih ringkas. Di dalam membuat suatu rangkuman, penulis bisa langsung mengemukakan isi suatu uraian atau pembicaraan itu tanpa harus menggunakan kalimat penyambung. Yang dimaksud dengan kalimat penyambung itu adalah menggunakan pernyataan dengan kata-kata:
“Pada buku yang berjudul Terampil Meringkas, pengarang memulai dengan penjelasan tentang masalah menulis ringkasan bagi para penulis pemula sebagai berikut.” atau “Pengarang buku yang berjudul Ayo Menulis memulai uraiannya dengan menyebutkan hal-hal sebagai berikut.” Kalimat penyambung dalam sebuah rangkuman seperti contoh di atas tidak diperlukan. Penulis dapat langsung melakukan kegiatan mencari pokok-pokok permasalahan terhadap tulisan yang akan dirangkum sesuai dengan tulisan yang telah dibaca dan dipahami. Pokok-pokok permasalahan dalam sebuah tulisan dapat diambil dari kalimat-kalimat utama dalam setiap paragraf. Kalimat-kalimat utama tersebut selanjutnya dihubung-hubungkan dengan menggunakan konjungsi atau dengan menambah kalimat penghubung agar tampak koheren (padu). Hal yang harus diperhatikan di dalam membuat rangkuman adalah penggunaan bahasa yang digunakan di dalam rangkuman. Bahasa rangkuman harus berbeda dengan bahasa asli penulis buku yang dirangkum. Akan tetapi, bahasa rangkuman yang dibuat bertolak dari ide pokok pengarang yang tertuang dalam setiap paragraf atau bacaan. Dengan demikian, jika akan merangkum uraian pengarang dari suatu paragraf, penulis terlebih dahulu perlu menemukan ide pokok yang terdapat di dalam paragraf tersebut, kemudian diungkap ulang dengan menggunakan bahasa yang berbeda dan singkat. Agar hasil rangkuman itu tidak menyimpang dari uraian aslinya, ide-ide pokok setiap paragraf jangan diabaikan.
Ikhtisar adalah tulisan ringkas yang berisi pokok persoalan dalam sebuah bacaan. Dalam pembuatan ikhtisar, penulis dapat langsung mengungkapkan persoalan dari suatu bahan bacaan atau pembicaraan yang akan diikhtisarkan. Penulis dapat membuat catatan atau memberi tanda tertentu pada bagian-bagian penting dalam bacaan yang akan diikhtisarkan ketika membaca. Dalam membuat ikhtisar, urutan isi tidak perlu dipersoalkan dan bahasa disusun dengan gaya bahasa yang mudah sehingga dapat dipahami oleh pembacanya. Dalam membuat ikhtisar dapat pula dilakukan dengan cara menyesuaikan bahasa ikhtisar dengan pembaca atau yang akan memahami ikhtisar tersebut. Penulis dapat pula memberikan penafsiran isi bacaan sesuai dengan kajian ilmu yang didalaminya, namun tetap mempertahankan pokok persoalan yang diungkapkan.
LANGKAH-LANGKAH MENULIS RANGKUMAN DAN IKHTISAR
Untuk dapat menghasilkan sebuah rangkuman yang baik, seorang penulis pemula perlu memperhatikan empat hal pokok, yaitu:

Pertama : mampu membaca dengan baik bacaan yang akan dirangkum,
Kedua : mampu memahami isi secara utuh terhadap bacaan yang akan dirangkum,
Ketiga : mampu menemukan ide-ide pokok ataupun kalimat topik dalam bacaan yang akan dirangkum, serta
Keempat : mampu menyusun kembali ide-ide maupun kalimat topik yang telah ditemukan menjadi sebuah tulisan utuh

Untuk mencapai hal di atas, langkah-langkah yang harus ditempuh bagi seorang penulis rangkuman adalah sebagai berikut.

1. Perangkum harus membaca uraian asli pengarang sampai tuntas agar memperoleh gambaran atau kesan umum dan sudut pandang pengarang. Pembacaan hendaklah dilakukan secara saksama dan diulang sampai dua atau tiga kali untuk dapat memahami isi bacaan secara utuh.

2. Perangkum membaca kembali bacaan yang akan dirangkum dengan membuat catatan pikiran utama atau menandai pikiran utama setiap uraian untuk setiap bagian atau setiap paragraf.

3. Dengan berpedoman hasil catatan, perangkum mulai membuat rangkuman dan menyusun kalimat-kalimat yang bertolak dari hasil catatan dengan menggunakan bahasa perangkum sendiri. Hanya saja, apabila perangkum merasa ada yang kurang enak, perangkum dapat membuka kembali bacaan yang akan dirangkum.

4. Perangkum perlu membaca kembali hasil rangkuman dan mengadakanperbaikan apabila dirasa ada kalimat yang kurang koheren.

5. Perangkum perlu menulis kembali hasil rangkumannya berdasarkan hasil perbaikan dan memastikan bahwa rangkuman yang dihasilkan lebih pendek dibanding dengan bacaan yang dirangkum.

PERBEDAAN ANTARA IKHTISAR DENGAN ABSTRAK DENGAN RINGKASAN

Hal yang juga harus mendapat perhatian dari penulis rangkuman adalah tidak memberikan penafsiran baru terhadap suatu pengertian yang diuraikan oleh pengarang asli.Selain itu, perangkum tidak boleh memasukkan hasil pemikirannya sendiri ke dalam rangkuman sebab akan mengaburkan pengertian gagasan yang diungkapkan oleh pengarang asli.
Ikhtisar
Ikhtisar adalah rangkuman gagasan yang dianggap penting oleh penyusun ikhtisar yang digali dari sebuah teks.
Penyusun ikhtisar dapat langsung mengemukakan inti atau pokok permasalahan yang berkaitan dengan kepentingan atau perhatiannya.

Ciri ikhtisar adalah

 merupakan tulisan baru yang mengandung sebagian gagasan dari teks.

 tidak mengandung hal baru,pikiran,atau opini penyusun ikhtisar,baik yang dimasukkan secara sadar maupun tidak sadar.

 menggunakan kata-kata dari penyusun sendiri.

Abstrak

Abstrak dan ikhtisar merupakan dua kata yang bermakna sama.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tercantum bahwa kata abstrak berarti ‘ringkasan’ inti ikhtisar (karangan, laporan, dsb),sedangkan kata ikhtisar berarti ‘pandangan secara ringkas (yang penting-penting saja) ringkasan.Istilah abstrak berasal dari bahasa Inggris,sedangkan istilah ikhtisar berasal dari bahasa Arab.
Jadi,kedua istilah itu berpadanan.Akan tetapi,di Indonesia,istilah ikhtisar dibedakan dari istilah abstrak.Ikhtisar merupakan rangkuman gagasan yang berlaku dalam laras umum,sedangkan abstrak merupakan rangkuman atau iktisar yang berlaku dalam laras ilmiah.Oleh karena itu,berlaku format tertentu bagi abstrak,baik untuk jurnal maupun untuk karya ilmiah.
Ringkasan
Ringkasan adalah penyajian karangan atau peristiwa yang panjang dalam bentuk yang singkat dan efektif.Ringkasan adalah sari karangan tanpa hiasan.Ringkasan itu dapat merupakan ringkasan sebuah buku,bab,ataupun artikel.
Fungsi sebuah ringkasan adalah memahami atau mengetahui sebuah buku atau karangan.Dengan membuat ringkasan,kita mempelajari cara seseorang menyusun pikirannya dalam gagasan-gagasan yang diatur dari gagasan yang besar menuju gagasan penunjang,Melalui ringkasan kita dapat menangkap pokok pikiran dan tujuan penulis.

CARA MEMBUAT RINGKASAN
MEMBACA NASKAH ASLI
Bacalah naskah asli sekali atau dua kali, kalau perlu berulang kali agar Anda mengetahui kesan umum tentang karangan tersebut secara menyeluruh. Penulis ringkasan juga perlu mengetahui maksud dan sudut pandangan penulis naskah asli. Untuk mencapainya, judul dan daftar isi tulisan (kalau ada) dapat dijadikan pegangan karena perincian daftar isi memunyai pertalian dengan judul dan alinea-alinea dalam tulisan menunjang pokok-pokok yang tercantum dalam daftar isi

MENCATAT GAGASAN UTAMA
Jika Anda sudah menangkap maksud, kesan umum, dan sudut pandangan pengarang asli, silakan memperdalam dan mengonkritkan semua hal itu. Bacalah kembali karangan itu bagian demi bagian, alinea demi alinea sambil mencatat semua gagasan yang penting dalam bagian atau alinea itu. Pokok-pokok yang telah dicatat dipakai untuk menyusun sebuah ringkasan. Langkah kedua ini juga menggunakan judul dan daftar isi sebagai pegangan. Yang menjadi sasaran pencatatan adalah judul-judul bab, judul anak bab, dan alinea, kalau perlu gagasan bawahan alinea yang betul-betul esensial untuk memperjelas gagasan utama tadi juga dicatat.

mengadakan reproduksi
pakailah kesan umum dan hasil pencatatan untuk membuat ringkasan. Urutan isi disesuaikan dengan naskah asli, tapi kalimat-kalimat dalam ringkasan yang dibuat adalah kalimat-kalimat baru yang sekaligus menggambarkan kembali isi dari karangan aslinya. Bila gagasan yang telah dicatat ada yang masih kabur, silakan melihat kembali teks aslinya, tapi jangan melihat teks asli lagi untuk hal lainnya agar Anda tidak tergoda untuk menggunakan kalimat dari penulis asli. Karena kalimat penulis asli hanya boleh digunakan bila kalimat itu dianggap penting karena merupakan kaidah, kesimpulan, atau perumusan yang padat.

ketentuan tambahan
Setelah melakukan langkah ketiga, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan agar ringkasan itu diterima sebagai suatu tulisan yang baik.
1.
a. Susunlah ringkasan dalam kalimat tunggal daripada kalimat majemuk.
b. Ringkaskanlah kalimat menjadi frasa, frasa menjadi kata. Jika rangkaian gagasan panjang, gantilah dengan suatu gagasan sentral saja.
c. Besarnya ringkasan tergantung jumlah alinea dan topik utama yang akan dimasukkan dalam ringkasan. Ilustrasi, contoh, deskripsi, dsb. dapat dihilangkan, kecuali yang dianggap penting.
d. Jika memungkinkan, buanglah semua keterangan atau kata sifat yang ada, meski terkadang sebuah kata sifat atau keterangan masih dipertahankan untuk menjelaskan gagasan umum yang tersirat dalam rangkaian keterangan atau rangkaian kata sifat yang terdapat dalam naskah.
e. Anda harus mempertahankan susunan gagasan dan urutan naskah. Tapi yang sudah dicatat dari karangan asli itulah yang harus dirumuskan kembali dalam kalimat ringkasan Anda. Jagalah juga agar tidak ada hal yang baru atau pikiran Anda sendiri yang dimasukkan dalam ringkasan.
f. Agar dapat membedakan ringkasan sebuah tulisan biasa (bahasa tak langsung) dan sebuah pidato/ceramah (bahasa langsung) yang menggunakan sudut pandang orang pertama tunggal atau jamak, ringkasan pidato atau ceramah itu harus ditulis dengan sudut pandangan orang ketiga.
g. Dalam sebuah ringkasan ditentukan pula panjangnya. Karena itu, Anda harus melakukan seperti apa yang diminta. Bila diminta membuat ringkasan menjadi seperseratus dari karangan asli, maka haruslah membuat demikian. Untuk memastikan apakah ringkasan yang dibuat sudah seperti yang diminta, silakan hitung jumlah seluruh kata dalam karangan itu dan bagilah dengan seratus. Hasil pembagian itulah merupakan panjang karangan yang harus ditulisnya. Perhitungan ini tidak dimaksudkan agar Anda menghitung secara tepat jumlah riil kata yang ada. Tapi perkiraan yang dianggap mendekati kenyataan. Jika Anda harus meringkaskan suatu buku yang tebalnya 250 halaman menjadi sepersepuluhnya, perhitungan yang harus Anda lakukan adalah sebagai berikut:
1. Panjang karangan asli (berupa kata) adalah: Jumlah halaman x Jumlah baris per halaman x Jumlah kata per baris = 250 x 35 X 9 kata = 78.750 kata.
2. Panjang ringkasan berupa jumlah kata adalah: 78.750 : 10 = 7.875 kata. Panjang ringkasan berupa jumlah halaman ketikan adalah: jika kertas yang dipergunakan berukuran kuarto, jarak antar baris dua spasi, tiap baris rata-rata sembilan kata, pada halaman kertas kuarto dapat diketik 25 baris dengan jarak dua spasi, maka: Jumlah kata per halaman adalah: 25x 9 kata = 225. Jumlah halaman yang diperlukan adalah: 7.875:225 = 35 halaman.

Leave a comment »

menulis wacana, bab 11,,,, smk kelas xi

Wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain sehingga membentuk kesatuan.

  • Implikatur konvensional dan implikatur percakapan
  • Konteks wacana: situasi, pembicara, pendengar, waktu, tempat, adegan, topik, peristiwa, bentuk amanat, kode, dan sarana.
  • Kohesi dan koherensi
  • Topik, tema, dan judul
  • Referensi dan inferensi
  • Skemata
  • Jenis-Jenis Wacana Bahasa Indonesia
    Berdasarkan bentuk atau jenisnya, wacana dibedakan menjadi empat. Wacana narasi, deskripsi, eksposisi, argumentatif, dan persuasi. Berikut penjelasanya:
    Wacana Narasi
    Narasi adalah cerita yang didasarkan pada urut-urutan suatu kejadian atau peristiwa. Narasi dapat berbentuk narasi ekspositoris dan narasi imajinatif. Unsur-unsur penting dalam sebuah narasi adalah kejadian, tokoh, konfik, alur/plot, serta latar yang terdiri atas latar waktu, tempat, dan suasana.
    Wacana Deskripsi
    Deskripsi adalah karangan yang menggambarkan/suatu objek berdasarkan hasil pengamatan, perasaan, dan pengalaman penulisnya. Untuk mencapai kesan yang sempurna bagi pembaca, penulis merinci objek dengan kesan, fakta, dan citraan. Dilihat dari sifat objeknya, deskripsi dibedakan atas 2 macam, yaitu deskripsi Imajinatif/Impresionis dan deskripsi faktual/ekspositoris.
    Wacana Eksposisi
    Karangan eksposisi adalah karangan yang memaparkan atau menjelaskan secara terperinci (memaparkan) sesuatu dengan tujuan memberikan informasi dan memperluas pengetahuan kepada pembacanya. Karangan eksposisi biasanya digunakan pada karya-karya ilmiah seperti artikel ilmiah, makalah-makalah untuk seminar, simposium, atau penataran.Tahapan menulis karangan eksposisi, yaitu menentukan objek pengamatan, menentukan tujuan dan pola penyajian eksposisi, mengumpulkan data atau bahan, menyusun kerangka karangan, dan mengembangkan kerangka menjadi karangan.Pengembangan kerangka karangan berbentuk eksposisi dapat berpola penyajian urutan topik yang ada dan urutan klimaks dan antiklimaks.
    Wacana Argumentasi
    Karangan argumentasi ialah karangan yang berisi pendapat, sikap, atau penilaian terhadap suatu hal yang disertai dengan alasan, bukti-bukti, dan pernyataan-pernyataan yang logis. Tujuan karangan argumentasi adalah berusaha meyakinkan pembaca akan kebenaran pendapat pengarang.Tahapan menulis karangan argumentasi, yaitu menentukan tema atau topik permasalahan, merumuskan tujuan penulisan, mengumpulkan data atau bahan berupa: bukti-bukti, fakta, atau pernyataan yang mendukung, menyusun kerangka karangan, dan mengembangkan kerangka menjadi karangan.Pengembangan kerangka karangan argumentasi dapat berpola sebab-akibat, akibat-sebab, atau pola pemecahan masalah.

    KONTEKS DAN SITUASI TUTUR

    1.1 Konteks

    Konteks adalah sesuatu yang menjadi sarana pemerjelas suatu maksud. Sarana tersebut berupa bagian ekspresi yang dapat mendukung kejelasan maksud (ko-teks/co-tex)dan yang berupa situasi yang berhubungan dengan suatu kejadian (konteks/contex).
    Menurut Alwi et al. (1998:421) konteks terdiri atas unsur-unsur seperti situasi, pembicara, pendengar, waktu, tempat, adegan, topik, peristiwa, bentuk amanat, kode, dan sarana. Bentuk amanat sebagai unsur konteks antara lain dapat berupa surat, esai iklan, pemberitahuan, pengumuman. Kode menyangkut ragam bahasa yang digunakan, apakah ragam bahasa Indonesia baku, bahasa Indonesia logat daerah, atau bahasa daerah. Sementara itu, unsur konteks yang berupa sarana adalah wahana komunikasi yang dapat berwujud pembicaraan bersemuka atau melalui telepon, surat, dan televisi.

    Di dalam peristiwa tutur ada sejumlah faktor yang menandai keberadaan peristiwa itu. Menurut Hymes (1968) faktor-faktor tersebut yakni, (1) setting atau scene yaitu tempat dan suasana peristiwa tutur; (2) participant, yaitu penutur, mitra tutur, atau pihak lain; (3) end atau tujuan; (4) act, yaitu tindakan yang dilakukan penutur di dalam peristiwa tutur; (5) key, yaitu nada suara dan ragam bahasa yang digunakan di dalam mengekspesi tuturan dan cara mengekspresinya; (6) instrument, yaitu alat atau sarana untuk mengekspresi tuturan, apakah secara lisan, tulis, melalui telepon atau bersemuka; (7) norm atau norma, yaitu aturan permainan yang harus ditaati oleh setiap peserta tutur; dan (8) genre, yaitu jenis kegiatan seperti wawancara, diskusi, kampanye, dan sebagainya. Kedelapan faktor dapat disebut dengan kata speaking.
    Hymes (1964) yang kemudian dikutip Brown (1983) mengemukakan bahwa ciri-ciri konteks mencakupi: penutur, mitra tutur, topik tuturan, waktu dan tempat bertutur, saluran atau media, kode (dialek atau gaya), amanat atau pesan, dan peristiwa atau kejadian.

    Mengetahui penutur di dalam suatu peristiwa tutur memudahkan interpretasi maksud tuturan (Lubis 1993:85). Makna tuturan, “Demonstrasi harus dilakukan” tidak jelas tanpa diketahui penuturnya. Jika tuturan itu diekspresi oleh mahasiswa reformis, demonstrasi itu adalah unjuk rasa untuk menentang suatu kebijakan atau memprotes suatu keputusan. Tetapi, jika penuturnya ibu-ibu yang sehari-hari berkecimpung di dalam bidang tata boga, maksud tuturan itu adalah praktek pembuatan suatu jenis masakan atau makanan. Di dalam bidang itu ekspresi mendemonstrasikan bermakna “mempraktekkan”.

    Pengetahuan tentang mitra tutur dapat memperjelas maksud tuturan. Perbedaan mitra tutur menyebabkan perbedaan tafsiran maksud tuturan. Ekspresi jauh memiliki tafsiran yang berbeda secara bertahap menurut usia manusia. Maksud jauh bagi mitra tutur dengan usia anak-anak tidak sama dengan maksud tuturan ibu bagi mitra tutur dewasa. Berjalan satu kilometer jauh bagi anak-anak. Hal itu tidak berlaku bagi mitra tutur dewasa. Bagi mitra tutur berjalan lima belas kilometer baru jauh.
    Topik tuturan, yaitu pokok persoalan yang dibicarakan di dalam suatu peristiwa tutur. Topik tuturan menjadi sarana pemetaan maksud tuturan.
    Waktu dan tempat bertutur berfungsi sebagai latar peristiwa tutur. Dengan mengetahui latar, maksud sebuah tuturan dapat mudah dipahami. Latar yang tidak jelas menjadikan penafsiran maksud tuturan menjadi sulit. Selain waktu dan tempat, latar juga berkenaan dengan hubungan penutur dan mitra tutur, gerak-gerik tubuh penutur, serta roman muka penutur.
    Saluran atau media adalah wahana pengungkapan ekspresi. Atas dasar caranya, pengungkapan ekspresi tu dapat secara lisan dan tulis. Di dalam beberapa hal maksud tuturan lisan lebih mudah ditangkap dari pada tuturan tulis, karena tuturan lisan dapat disertai piranti komunikasi lain seperti sasmita dan ekspresi roman muka. Dengan menggunakan pongtuasi yang tepat, pengungkapan maksud ekspresi tulis dapat dilakukan dengan jelas. Berdasarkan bentuk saluran yang digunakan, pengungkapan ekspresi itu dapat melalui surat, telegram, telepon, tatap muka, dan televisi.

    Kode berarti jenis bahasa. Sering pula kode ini disebut tranda atau bahasa. Peristiwa tutur yang memakai saluran atau media lisan dapat memilih salah satu dialek bahasa yang digunakan. Ketepatan pilihan dialek dapat memperjelas maksud tuturan.
    Amanat adalah sesuatu yang hendak disampaikan. Pengungkapan amanat hendaknya diupayakan sedemikian rupa sehingga mitra tutur mudah menangkapnya. Kondisi mitra tutur menjadi acuan dalam memperoleh ketepatan penyampaian pesan. Jika mitra tutur bersifat umum, bentuk amanat yang disampaikan juga umum, begitu juga sebaliknya. Jadi, kesesuaian antara kondisi mitra tutur dan bentuk amanat atau pesan benar-benar harus diupayakan.

    Peristiwa atau kejadian dapat bermacam-macam dan bergantung pada tujuannya. Setiap peristiwa tutur memiliki cara penuturan tertentu. Penuturan hakim atau jaksa di pengadilan tidak sama dengan penuturan ketua panitia suatu pertandingan dengan calon penyandang dana. Jika hal itu terjadi, maksud tuturan mudah ditangkap. Sebaliknya, jika tuturan ketua panitia pertandingan dengan calon penyandang dana sama dengan tuturan hakim atau jaksa di pengadilan, maksud tuturan sulit tersampaikan. Akibatnya tujuan terjadinya peristiwa tutur itu tidak tercapai.

    1.2 Situasi Tutur

    Situasi tutur adalah situasi yang melahirkan tuturan. Di dalam komunikasi tidak ada tuturan tanpa situasi tutur.
    Maksud tuturan yang sebenarnya hanya dapat diidetifikasi melalui situasi tutur yang mendukungnya. Penentuan maksud situasi tutur tanpa mengkalkulasi situasi tutur merupakan langkah yang memadai. Komponen-komponen situasi tutur menjadi kriteria penting di dalam menentukan maksud suatu tuturan.

    Leech (1983: 13-15) berpendapat bahwa situasi tutur itu mencakupi: penutur dan mitra tutur, konteks tuturan, tujuan tuturan, tindak tutur sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan tuturan sebagai produk tindak verbal.
    Penutur adalah orang yang bertutur, yaitu orang yang menyatakan fungsi pragmatis tertentu di dalam peristiwa komunikasi. Sedangkan mitra tutur adalah orang yang menjadi sasaran sekaligus kawan penutur di dalam pertuturan. Aspek-aspek yang terkait dengan komponen penutur dan mitra tutur antara lain usia, latar belakang sosial ekonomi, jenis kelamin, tingkat pendidikan, tingkat keakraban.
    Di dalam tata bahasa konteks tuturan mencakup semua aspek fisik atau latar sosial yang relevan dengan tuturan lain, biasa disebut ko-teks. Sementara itu, konteks latar dinamakan konteks. Di dalam pragmatik konteks berarti semua latar belakang pengetahuan yang dipahami bersama oleh penutur dan mitra tuturnya. Konteks ini berperan membantu mitra tutur di dalam menafsirkan maksud yang ingin dinyatakan oleh penutur.

    Tujuan tuturan adalah apa yang ingin dicapai penutur dengan melakukan tindakan bertutur. Komponen ini menjadi hal yang melatarbelakangi tuturan.
    Tindak tutur sebagai bentuk tindakan atau aktivitas merupakan komponen situasi tutur yang keempat. Yang dimaksud komponen tersebut adalah bahwa tindak tutur merupakan tindakan juga. Konsep ini bertentangan dengan akronim NATO (no action talking only) yang memandang berbicara itu bukanlah tindakan. Benar bahwa tindak tutur itu merupakan suatu aktivitas. Menuturkan sebuah tuturan dapat dilihat sebagai melakukan tindakan (act) (Austin 1962, Gunarwan 1994, dan Kaswati Purwo (1990).
    Komponen situasi tutur yang terakhir adalah tuturan sebagai produk tindak verbal. Tuturan itu merupakan suatu tindakan. Tindakan manusia, yaitu tindakan verbal dan nonverbal. Sementara itu, berbicara atau bertutur adalah tindakan verbal. Karena tercipta melalui tindakan verbal, tuturan itu merupakan produk tindak verbal. Tindak verbal adalah mengekspresi kata-kata atau bahasa.

    Situasi tutur yang dikemukakan Leech (1983) mencakup penutur dan mitra tutur, tujuan, konteks, tindak tutur sebagai suatu tindakan, dan tuturan sebagai produk tindak verbal. Komponen tersebut menyusun suatu situasi tutur di dalam peristiwa tutur atau speech event. Di dalam praktek, mungkin saja komponen situasi tutur bertambah. Komponen lain yang dapat menjadi unsur situasi tutur antara lain waktu dan tempat pada saat tuturan diproduksi. Tuturan yang sama dapat memiliki maksud yang berbeda akibat perbedaan waktu dan tempat sebagai latar tuturan.

  • Kali ini, saya akan memberi contoh masing-masing kelima paragraf tersebut dengan tema bahasan mengenai Pantai Parangtritis. Sengaja saya buat dengan tema yang sama agar pembaca lebih mudah mengetahui perbedaan dari kelima jenis paragraf tersebut.
     
    A. Paragraf Narasi –> Menceritakan atau mengisahkan suatu kejadian atau peristiwa sehingga tampak seolah-olah pembaca mengalami sendiri peristiwa itu.
     
    Contoh:
    Tepat ketika tanggal 10 Maret, sekolahku libur selama sembilan hari dan akan berakhir pada tanggal 18 Maret. Aku dan seluruh keluargaku tidak menyia-nyiakan waktu ini untuk mengadakan liburan keluarga. Ketika itu aku memilih berlibur ke Pantai Parangtritis. Pagi-pagi aku telah berbenah dan menyiapkan semua perbekalan yang nantinya diperlukan. Sepanjang perjalanan, aku iringi dengan nyanyian lagu riang. Betapa senangnya aku ketika sampai di pantai tersebut. Dengan hati suka ria, aku sambut Pantai Parangtritis dengan senyumku. Pantai Parangtritis, pantai nan elok yang menjadi favoritku. Tanpa menyia-nyiakan waktu, aku mengajak kakakku untuk bermain air. Kuambil air dan aku ayunkan ke mukanya. Dengan canda tawa, kami saling berbalasan. Puas rasanya, terasa hilang semua kepenatan karena kesibukan tiap harinya. Di sana, aku dan seluruh keluargaku saling berfoto-foto untuk mengabadikan momen yang indah ini. Tak terasa waktu berjam-jam telah kuhabiskan disana. Hari pun mulai sore menandakan perpisahan dan kembali pulang. Tak rela rasanya kebahagiaan ini akhirnya selesai. Dalam benakku, aku kan kembali esok.

    B. Paragraf Deskripsi –> Menggambarkan sesuatu (objek) secara terperinci atau mendetil sehingga tampak seolah-olah pembaca melihat, mendengar, dan merasakannya sendiri.
     
    Contoh:
    Masih melekat di mataku, pemandangan indah nan elok pantai Parang Tritis. Gelombang ombak bergulung-gulung datang silih berganti menyambutku serasa ingin mengajak bermain. Air yang jernih dan pasir putih lembut yang menghampar luas tanpa ada tumbuh-tumbuhan atau karang yang menghalangi membuatku ingin kembali lagi. Di sebelah kanan-kiri, aku bisa memandang air laut sejauh mata memandang, pandai dengan bukit berbatu, pesisir serta pemandangan bukit kapur di sebelah utara pantai. Kurasakan dingin membasuh kakiku karena ombah menghempas kakiku dan terasa asin air itu ketika bibirku terkena percikan. Sepanjang aku berjalan, hampir pinggiran pantai dipenuhi oleh pengunjung wisatawan. Kulihat ada yang berlari berkejar-kejaran di bibir pantai, bermain bola, bermain dengan air, berfoto-foto dengan latar sekitar pantai. Tapi yang paling membuatku tertarik, kulihat ada beberapa turis manca negara yang menikmati keindahan pantai ini dengan naik delman. Seperti apa yang aku lihat, pantai ini memang sangat ramai pengunjung. Tak pernah sunyi pantai Parang Tritis.
     
    C. Paragraf Eksposisi –> Menjelaskan atau memaparkan tentang sesuatu dengan tujuan member informasi (menambah wawasan).
     
    Contoh:
    Parangtritis adalah nama desa di kecamatan Kretek, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di desa ini terdapat pantai Samudera Hindia yang terletak kurang lebih 25 km sebelah selatan kota Yogyakarta. Parangtritis merupakan objek wisata yang cukup terkenal di Yogyakarta selain objek pantai lainnya seperti Samas, Baron, Kukup, Krakal dan Glagah. Parangtritis mempunyai keunikan pemandangan yang tidak terdapat pada objek wisata lainnya yaitu selain ombak yang besar juga adanya gunung-gunung pasir yang tinggi di sekitar pantai, gunung pasir tersebut biasa disebut gumuk. Objek wisata ini sudah dikelola oleh pihak pemda Bantul dengan cukup baik, mulai dari fasilitas penginapan maupun pasar yang menjajakan souvenir khas Parangtritis. Selain itu ada pemandian yang disebut parang wedang konon air di pemandian dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit diantaranya penyakit kulit, air dari pemandian tersebut mengandung belerang yang berasal dari pengunungan di lokasi tersebut. Air panas dari parang wedang dialirkan ke pantai parangtritis untuk bilas setelah bermain pasir dan juga mengairi kolam kecil bermain anak-anak. Di Parangtritis ada juga ATV, kereta kuda & kuda yang dapat disewa untuk menyusuri pantai dari timur ke barat. selain itu juga parangtritis sebagai tempat untuk olahraga udara/aeromodeling.
     
    D. Paragraf Argumentasi –> mengungkapkan ide, gagasan, atau pendapat penulis dengan disertai bukti dan fakta
     
    Contoh:
    Pantai Parangtritis memang memiki keindahan eksotis yang membuat wisatawan ramai berkunjung, tetapi juga sering menelan korban. Yang disayangkan, sebagian masyarakat Indonesia masih saja menganggap peristiwa tersebut berkaitan dengan hal-hal mistis, yakni dikarenakan Ratu Pantai Selatan meminta tumbal. Padahal, ada penjelasan ilmiah di balik musibah tersebut. Para praktisi ilmu kebumian menegaskan bahwa penyebab utama hilangnya sejumlah wisatawan di Pantai Parangtritis, Bantul, adalah akibat terseret rip current. Dengan kecepatan mencapai 80 kilometer per jam, arus balik tidak hanya kuat, tetapi juga mematikan. Jadi, banyaknya korban tenggelam tidak ada kaitannya sama sekali dengan anggapan para masyarakat. Ali Susanto, Komandan SAR Pantai Parangtritis, juga menambahkan bahwa disepanjang Pantai Parangtritis juga banyak terdapat palung (pusaran air) yang tempatnya selalu berpindah-pindah dan sulit diprediksi. Kondisi inilah yang sering banyak menimbulkan korban mati tenggelam.
     
    E. Paragraf Persuasi –> karangan yang bertujuan untuk meyakinkan dan membujuk seseorang agar melakukan sesuatu yang dikehendaki penulis.
     
    Contoh:
    Pantai Parangtritis memang memiki keindahan eksotis yang membuat wisatawan ramai berkunjung, tetapi juga sering menelan korban. Yang disayangkan, sebagian masyarakat Indonesia masih saja menganggap peristiwa tersebut berkaitan dengan hal-hal mistis, yakni dikarenakan Ratu Pantai Selatan meminta tumbal. Padahal, ada penjelasan ilmiah di balik musibah tersebut. Para praktisi ilmu kebumian menegaskan bahwa penyebab utama hilangnya sejumlah wisatawan di Pantai Parangtritis, Bantul, adalah akibat terseret rip current. Dengan kecepatan mencapai 80 kilometer per jam, arus balik tidak hanya kuat, tetapi juga mematikan. Jadi, banyaknya korban tenggelam tidak ada kaitannya sama sekali dengan anggapan para masyarakat. Ali Susanto, Komandan SAR Pantai Parangtritis, juga menambahkan bahwa disepanjang Pantai Parangtritis juga banyak terdapat palung (pusaran air) yang tempatnya selalu berpindah-pindah dan sulit diprediksi. Kondisi inilah yang sering banyak menimbulkan korban mati tenggelam. Oleh karena itu, selayaknya warga masyarakat tidak lagi percaya hal-hal gaib dan bisa mengedepankan penalaran logika atau akal sehat. Pemerintah daerah pun sebaiknya memberikan pemahaman yang benar mengenai penyebab bencana laut kepada warga di sekitar pantai. Informasi tersebut dapat diteruskan kepada wisatawan guna meningkatkan kewaspadaan mereka.
     

Leave a comment »

lanjutan,,,, tentang negosiasi bab 9, XI smk

PENGANTAR TENTANG “NEGOSIASI”

TINJAUAN DASAR MENGENAI NEGOISASI

Negosiasi diperlukan dalam kehidupan manusia karena sifatnya yang begitu erat dengan filosofi kehidupan manusia dimana setiap manusia memiliki sifat dasar untuk mempertahankan kepentingannya, di satu sisi, manusia lain juga memiliki kepentingan yang akan tetap dipertahankan, sehingga, terjadilah benturan kepentingan. Padahal, kedua pihak tersebut memiliki suatu tujuan yang sama, yaitu memenuhi kepentingan dan kebutuhannya. Apabila terjadi benturan kepentingan terhadap suatu hal, maka timbul lah suatu sengketa. Dalam penyelesaian sengketa dikenal berbagai macam cara, salah satunya negosiasi. Secara umum, tujuan dilakukannya negosiasi adalah mendapatkan atau memenuhi kepentingan kita yang telah direncanakan sebelumnya dimana hal yang diinginkan tersebut disediakan atau dimiliki oleh orang lain sehingga kita memerlukan negosiasi untuk mendapatkan yang diinginkan.

Dalam setiap proses negosiasi, selalu ada dua belah pihak yang berlawanan atau berbeda sudut pandangnya. Agar dapat menemukan titik temu atau kesepakatan, kedua belah pihak perlu bernegosiasi.

Istilah Negoisasi tercantum  di dalam Bab I Ketentuan Umum UU No. 30 tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaiaan Sengketa, Pasal 1 butir 10, disebutkan bahwa ADR adalah lembaga penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui prosedur yang disepakati oleh para pihak, Dalam praktik yakni penyelesaian dengan cara konsultasi, negosiasi, mediasi, konsolidasi, atau penilaian ahli.

Pengertian negosiasi dapat berbeda-beda tergantung dari sudut pandang siapa yang terlibat dalam suatu negosiasi. Dalam hal ini, ada dua pihak yang berkepentingan dalam bernegosiasi, Negosiasi dapat didefinisikan sebagai : “pembicaran dengan orang lain dengan maksud untuk mencapai kompromi atau kesepakatan untuk mengatur atau mengemukakan.” Istilah-istilah lain kerap digunakan pada proses ini seperti : pertawaran, tawar-menawar, perundingan, perantaraan atau barter

Menurut Hartman menegaskan bahwa negosiasi merupakan suatu proses komunikasi antara dua pihak yang masing-masing mempunyai tujuan dan sudut pandang mereka sendiri, yang berusaha mencapai kesepakatan yang memuaskan kedua belah pihak mengenai masalah yang sama.

Menurut Oliver, negosiasi adalah sebuah transaksi dimana kedua belah pihak mempunyai hak atas hasil akhir. Hal ini memerlukan persetujuan kedua belah pihak sehingga terjadi proses yang saling memberi dan menerima sesuatu untuk mencapai suatu kesepakatan bersama.

Sedangkan menurut Fisher R dan William Ury; Negoisasi adalah komunikasi dua arah dirancang untuk mencapai kesepakatan pada saat keduabelah pihak memiliki berbagai kepentingan yang sama atau berbeda.

Dari beberapa pengertian diatas, dapat dikemukakan bahwa suatu proses negosiasi selalu melibatkan dua orang atau lebih yang saling berinteraksi, mencari suatu kesepakatan kedua belah pihak dan mencapai tujuan yang dikehendaki bersama yang terlibat dalam negosiasi.

Dengan kata lain negosiasi adalah kegiatan yang dilakukan untuk mencapai suatu keadaan yang dapat diterima kedua belah pihak. Negosiasi diperlukan ketika kepentingan seseorang atau suatu kelompok tergantung pada perbuatan orang atau kelompok lain yang juga memiliki kepentingan-kepentingan tersebut harus dicapai dengan jalan mengadakan kerjasama.

Negosiasi adalah pertemuan antara dua pihak dengan tujuan mencapai kesepakatan atas pokokpokok masalah yang :

  1. Penting dalam pandangan kedua belah pihak
  2. Dapat menimbulkan konflik di antara kedua belah pihak
  3. Membutuhkan kerjasama kedua belah pihak untuk mencapainya.

Negosiasi tidaklah untuk mencari pemenang dan pecundang; dalam setiap negosiasi terdapat kesempatan untuk menggunakan kemampuan sosial dan komunikasi efektif dan kreatif untuk membawa kedua belah pihak ke arah hasil yang positif bagi kepentingan bersama.

Salah satu tujuan orang bernegosiasi adalah menemukan kesepakatan kedua belah pihak secara adil dan dapat memenuhi harapan/keinginan kedua belah pihak. Dengan kata lain, hasil dari sebuah negosiasi adalah adanya suatu kesepakatan yang memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Artinya, tidak ada satupun pihak yang merasa dikalahkan atau dirugikan akibat adanya kesepakatan dalam bernegosiasi. Selain alasan tersebut diatas, tujuan dari negosiasi adalah untuk mendapatkan keuntungan atau menghindarkan kerugian atau memecahkan problem yang lain

Negosiasi sama-sama menang secara sederhana adalah “bisnis yang baik”. Ketika pihak-pihak yang berkepentingan di dalam suatu perjanjian merasa puas dengan hasilnya, mereka akan berusaha membuat perjanjian itu berhasil, tidak sebaliknya. Mereka pun akan bersedia untuk bekerja sama satu sama lain pada masa datang. Barangkali anda bertanya, “Bagaimana saya bisa menang di dalam suatu negosiasi bila saya membolehkan pihak lawan juga memenuhi kebutuhan mereka?”. Jawaban pertanyaan ini terletak pada kenyataan bahwa orang yang berbeda mempunyai kebutuhan yang berbeda.

Negosiasi menjelaskan setiap proses komunikasi antara individu yang ditujukan untuk mencapai kompromi atau kesepakatan untuk kepuasan kedua belah pihak. Negotiation involves examining the facts of a situation, exposing both the common and opposing interests of the parties involved, and bargaining to resolve as many issues as possible. Negosiasi melibatkan memeriksa fakta dari sebuah situasi, exposing baik umum dan kepentingan yang berlawanan dari pihak yang terlibat, dan tawar-menawar untuk menyelesaikan masalah-masalah sebanyak mungkin.

Yang perlu kita ketahui dalam negosiasi tidak akan pernah tercapai kesepakatan kalau sejak awal masing-masing atau salah satu pihak tidak memiliki niat untuk mencapai kesepakatan. Kesepakatan harus dibangun dari keinginan atau niat dari kedua belah pihak, sehingga kita tidak bertepuk sebelah tangan.

Karena itu, penting sekali dalam awal-awal negosiasi kita memahami dan mengetahui sikap dari pihak lain, melalui apa yang disampaikan secara lisan, bahasa gerak tubuh maupun ekspresi wajah. Karena jika sejak awal salah satu pihak ada yang tidak memiliki niat atau keinginan untuk mencapai kesepakatan, maka hal tersebut berarti membuang waktu dan energi kita. Untuk itu perlu dicari jalan lain, seperti misalnya: conciliation, mediation dan arbitration melalui pihak ketiga.

 

TEKNIK DAN PANDUAN SINGKAT BERNEGOISASI

Dalam negosiasi sendiri diperlukan upaya agar bahasan yang ada tidak melenceng atau keluar dari terbuka responsif dan aserti persuasif. Jika keluar dari tujuan utama dari bahasan maka relasi tidak akan pernah bisa dibangu karena masing-masing pihak akan saling menghindar sehingga substansinya tidak pernah tersentuh, sedangkan jika keluar dari tujuan utama dari bahasan maka relasi juga tidak bisa terbangun karena akan terjadi konfrontasi atau pertikaian dari masing-masing pihak.

Beberapa prinsip yang diterapkan di dalam bernegoisasi

  1. Negosiasi harus memiliki struktur, hal ini bertujuan untuk mempermudah pengaturan jalannya negosiasi. Tanpa dibentuk struktur yang dibentuk terlebih dahulu dan disepakati bersama negosiasi tidak akan berjalan, karena masing-masing pihak akan berusaha melakukan tindakan sesuai dengan keinginannya;
  2. Struktur negosiasi akan menentukan strategi. dengan adanya struktur yang jelas, maka akan lebih jelas strategi yang akan diambil dalam negosiasi.
  3. Struktur bisa dibentuk. Pembentukan struktur merupakan sebuah hal yang bisa dilakukan dengan memperhatikan pola-pola relasi yang sudah ada sebelumnya termasuk di dalamnya pola-pola kekuasaan yang meingkupinya;
  4. Sumber kekuasaan dalam nengosiasi adalah kontrol terhadap proses. Untuk dapat mempengaruhi jalannya negosiasi sehingga tujuan akan bisa diperoleh maka seorang negosiator haruslah mampu mempengaruhi jalannya proses;
  5. Proses bisa diarahkan, sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa mengontrol proses dalam negosiasi merupakan hal yang sangat penting dalam negosiasi. Namun hal yang perlu diperhatikan dalam hal tersebut adalah  proses dapat diarahkan dengan cara memperkuat relasi dan pengaruh dalam semua tahap negosiasi;
  6. Negosiator adalah pembelajar. Hal ini merupakan hal yang sangat penting karena jika seorang negosiator tidak mau memperhatikan, mempelajari, dan memahami keadaan serta perubahan yang terjadi di sekelilingnya, maka negosiasi yang dilakukannya akan selalu gagal;
  7. Negosiator adalah peminpin. Sebagaimana point-point sebelumnya maka seorang negosiatior haruslah mampu memimpin dengan baik. Karena tingkat kepemimpinan akan juga berpengaruh kepada derajat kepercayaan orang lainnya.

 

Beberapa keuntungan dan kerugian didalam negoisasi

1. Keuntungan Negoisasi :

  1. Mengetahui pandanga pihak lawan;
  2. Kesempatan mengutarakan isi hati untuk didengar piha lawan;
  3. Memungkinkan sengketa secara bersama-sama;
  4. Mengupayakan solusi terbaik yang dapat diterima oleh keduabelah pihak;
  5. Tidak terikat kepada kebenaran fakta atau masalah hukum;
  6. f. Dapat diadakan dan diakhiri sewaktu-waktu.

2. Kelemahan Negoisasi :

  1. Tidak dapat berjalan tanpa adanya kesepakatan dari keduabelah pihak;
  2. Tidak efektif jika dilakukan oleh pihak yang tidak berwenang mengambil
  3. kesepakatan;
  4. Sulit berjalan apabila posisi para pihak tidak seimbang;
  5. Memungkinkan diadakan untuk menunda penyelesaian untuk mengetahui informasi yang dirahasiakan lawan;
  6. Dapat membuka kekuatan dan kelemahan salahsatu pihak;
  7. Dapat membuat kesepakan yang kurang menguntungkan.

3.   Prasyara Negoisasi yang efektif :

  1. Kemauan (Willingness) untuk menyelesaikan masalah dan bernegoisasi secara sukarela;
  2. Kesiapan (Preparedness) melakukan negoisasi;
  3. Kewenangan (authoritative) mengambil keputusan;
  4. Keseimbangan kekuatan (equal bergaining power) ada sebagai saling ketergantungan;
  5. Keterlibatan seluruh pihak (steaholdereship) dukungan seluruh pihak terkait;
  6. Holistic (compehenship) pembahasan secara menyeluruh;
  7. Masih ada komunikasi antara para pihak;
  8. Masih ada rasa percaya dari para pihak
  9. Sengketa tidak terlalu pelik
  10. Tanpa prasangka dan segala komunikasiatau diskusi yang terjadi tidak dapat digunakan sebagai alat bukti.

Langkah-langkah di dalam bernegosiasi

1. Persiapan

Langkah pertama dalam melakukan negosiasi adalah langkah persiapan. Persiapan yang baik merupakan fondasi yang kokoh bagi negosiasi yang akan kita lakukan. Hal tersebut akan memberikan rasa percaya diri yang kita butuhkan dalam melakukan negosiasi. Yang pertama harus kita lakukan dalam langkah persiapan adalah menentukan secara jelas apa yang ingin kita capai dalam negosiasi. Tujuan ini harus jelas dan terukur, sehingga kita bisa membangun ruang untuk bernegosiasi. Tanpa tujuan yang terukur, kita tidak memiliki pegangan untuk melakukan tawar-menawar atau berkompromi dengan pihak lainnya.Hal kedua dalam persiapan negosiasi adalah kesiapan mental kita. Usahakan kita dalam kondisi relaks dan tidak tegang. Cara yang paling mudah adalah dengan melakukan relaksasi (sudah pernah kita bahas dalam edisi Mandiri 22). Bagi kita yang menguasai teknik pemrograman kembali bawah sadar (subconscious reprogramming) kita dapat melakukan latihan negosiasi dalam pikiran bawah sadar kita, sehingga setelah melakukannya berkali-kali secara mental, kita menjadi lebih siap dan percaya diri

2. Pembukaan

Mengawali sebuah negosiasi tidaklah semudah yang kita bayangkan. Kita harus mampu menciptakan atmosfir atau suasana yang tepat sebelum proses negosiasi dimulai. Untuk mengawali sebuah negosiasi dengan baik dan benar, kita perlu memiliki rasa percaya diri, ketenangan, dan kejelasan dari tujuan kita melakukan negosiasi. selanjutnya dalam pembicaraan awal, mulailah dengan membangun common ground, yaitu sesuatu yang menjadi kesamaan antar kedua pihak dan dapat dijadikan landasan bahwa pada dasarnya selain memiliki perbedaan, kedua pihak memiliki beberapa kesamaan yang dapat dijadikan dasar untuk membangun rasa percaya.

3. Memulai proses negosiasi

Langkah pertama dalam memulai proses negosiasi adalah menyampaikan (proposing) apa yang menjadi keinginan atau tuntutan kita. Yang perlu diperhatikan dalam proses penyampaian tujuan kita tersebut adalah:

  1. Tunggu saat yang tepat bagi kedua pihak untuk memulai pembicaraan pada materi pokok negosiasi;
  2. Sampaikan pokok-pokok keinginan atau tuntutan pihak anda secara jelas, singkat dan penuh percaya diri;
  3. Tekankan bahwa anda atau organisasi anda berkeinginan untuk mencapai suatu kesepakatan dengan mereka;
  4. Sediakan ruang untuk manuver atau tawar-menawar dalam negosiasi, jangan membuat hanya dua pilihan ya atau tidak;

Sampaikan bahwa ”jika mereka memberi anda ini anda akan memberi mereka itu – if you’ll give us this, we’ll give you that.” Sehingga mereka mengerti dengan jelas apa yang harus mereka berikan sebagai kompensasi dari apa yang akan kita berikan.

Hal kedua dalam tahap permulaan proses negosiasi adalah mendengarkan dengan efektif apa yang ditawarkan atau yang menjadi tuntutan pihak lain. Mendengar dengan efektif memerlukan kebiasaan dan teknik-teknik tertentu. Seperti misalnya bagaimana mengartikan gerakan tubuh dan ekspresi wajah pembicara. Usahakan selalu membangun kontak mata dengan pembicara dan kita berada dalam kondisi yang relaks namun penuh perhatian.

4. Zona Tawar Menawar (The Bargaining Zone)

Dalam proses inti dari negosiasi, yaitu proses tawar menawar, kita perlu mengetahui apa itu The Bargaining Zone (TBZ). TBZ adalah suatu wilayah ruang yang dibatasi oleh harga/patolkan batas keinginan kita

5. Membangun Kesepakatan

Babak terakhir dalam proses negosiasi adalah membangun kesepakatan dan menutup negosiasi. Ketika tercapai kesepakatan biasanya kedua pihak melakukan jabat tangan sebagai tanda bahwa kesepakatan (deal or agreement) telah dicapai dan kedua pihak memiliki komitmen untuk melaksanakannya.

KONFLIK DAN NEGOSIASI

undefined undefined

 

A.  Pengertian Konflik
     Menurut Robbins (2002), konflik adalah suatu proses yang dimulai bila satu pihak merasakan bahwa pihak lain telah mempengaruhi secara negative atau akan segera mempengaruhi secara negative pihak lain.
     Menurut Sopiah (2008), konflik itu adalah proses yang dinamis dan keberadaannya lebih banyak menyangkut persepsi dari orang atau pihak yang mengalami dan merasakannya.
     Menurut Suprihanto (2003), konflik adalah ketidaksetujuan antara dua atau lebih anggota organisasi atau kelompok-kelompok dalam organisasi yang timbul karena mereka harus menggunakan sumber daya yang langka secara bersama-sama, atau menjalankan kegiatan bersama-sama, atau karena mereka mempunyai status, tujuan, nilai-nilai dan persepsi yang berbeda.
     Mastenbroek dalam Soetopo  (2010), memandang konflik sebagai situasi di mana ketentuan tak berjalan, pernyataan ketidakpuasan, dan penciutan proses pembuatan keputusan.
     Menurut Soetopo (2010), konflik adalah suatu pertentangan dan ketidakseusaian kepentingan, tujuan, dan kebutuhan dalam situasi formal, sosial, dan psikologis, sehingga menjadi antagonis, ambivalen, dan emosional.
     Menurut Kreitner (2005), konflik adalah sebuah proses di mana satu pihak menganggap bahwa kepentingan-kepentingannya ditentang atau secara negative dipengaruhi oleh pihak lain.
     Dari beberapa definisi di atas, dapat kita simpulkan bahwa konflik adalah suatu bentuk pertentangan yang terjadi antara dua pihak atau lebih di mana salah satu pihak merasa dirugikan atau dipengaruhi secara negative sehingga menimbulkan ketidakpuasan terhadap perilaku  pihak lain.
B.  Pandangan Tentang Konflik
Terdapat tiga sudut pandang atau pandangan terhadap konflik yang terjadi dalam organisasi, antara lain:
1.        Pandangan Tradisional
Pandangan tradisional menyatakan bahwa konflik dipandang sebagai sesuatu yang jelek, tidak menguntungkan, dan selalu menimbulkan kerugian dalam organisasi. Oleh karena itu konflik harus dicegah dan dihindari sebisa mungkin dengan mencari akar permasalahannya (Muhyadi dalam Soetopo, 2010).
2.        Pandangan Hubungan Kemanusiaan (Behavioral)
Pandangan ini menyatakan bahwa konflik merupakan peristiwa yang wajar dalam semua kelompok organisasi (Robbins, 2002)
Menurut Soetopo (2010), tanpa diciptakan konflik mesti terjadi dalam organisasi. Atas dasar itu, konflik tidak selamanya merugikan, tetapi juga menguntungkan. Oleh sebab itu, konflik yang terjadi harus dikelola dengan baik.
3.        Pandangan Interaksi
Pandangan ini menganggap bahwa konflik dalam organisasi perlu diciptakan. Konfik bukan hanya suatu kekuatan positif dalam suatu organisasi tetapi juga diperlukan agar kinerja organisasi lebih efektif.
Selain itu, organisasi yang tenang, harmonis, penuh kedamaian, maka kondisinya akan menjadi statis dan tidak inovatif. Akibat selanjutnya adalah organisasi tersebut tidak dapat bersaing untuk maju.
 
C.  Jenis Dan Penyebab
Ditinjau dari segi fungsinya, ada dua jenis konflik, yaitu:
1.      Konflik Konstruktif
Adalah konflik yang memiliki nilai positif bagi pengembangan organisasi.
2.      Konflik Destruktif
Adalah konflik yang memiliki nilai negative bagi organisasi.
Ditinjau dari segi instansionalnya, konflik terbagi menjadi tiga jenis, antara lain:
1)     Konflik kebutuhan individu dengan peranan dalam organisasi
2)     Konflik peranan dengan peranan
3)     Konflik individu dengan individu lain
Setiap orang memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi, sehingga sering kali berbenturan dengan peranan yang harus dijalankan dalam organisasi atau bahkan berbenturan dengan kebutuhan orang yang laiinya.
Ditinjau dari segi materi yang dikonflikkan, terdapat empat jenis konflik, yaitu:
1.      Konflik Tujuan
Konflik jenis ini terjadi jika ada 2 atau lebih tujuan yang kompetitif atau bahkan kontradiktif.
2.      Konflik Peranan
Peranan adalah konsep yang sangat penting dalam organisasi karena akan membantu memahami perilaku yang diharapkan dari pihak yang menduduki posisi tertentu dalam organisasi (Suprihanto, 2003). Konflik peranan timbul karena manusia memiliki lebih dari satu peranan dan setiap peranan tidak selalu memiliki kepentingan yang sama. Di sisi lain, banyaknya peranan dalam keseluruhan organisasi semakin membuka peluang munculnya konflik ini.
3.      Konflik Nilai
Menurut Milton Rokeach dalam Kreitner (2005), nilai adalah kepercayaan yang bertahan lama di mana model sikap khusus atau sifat-akhir eksistensi secara pribadi atau secara social lebih disukai daripada model sikap yang seballiknya atau yang bertentangan dengan sifat akhir eksistensi.
Konflik nilai muncul karena pada dasarnya nilai yang dimiliki setiap individu dan nilai yang dijunjung tinggi antar-organisasi tidak sama.
4.      Konflik Kebijakan
Dapat terjadi karena adanya ketidaksetujuan individu atau kelompok terhadap kebijakan yang disampaikan oleh pihak tertentu (Soetopo, 2010).
     Sopiah (2008) membedakan konflik dalam beberapa perspektif, antara lain :
1.      Konflik Intraindividu
Konflik ini dialami oleh individu dengan dirinya sendiri karena adanya tekanan peran dan ekspektasi di luar berbeda dengan keinginan atau harapannya.
2.      Konflik Antarindividu
Konflik yang terjadi antarindividu yang berbeda dalam suatu kelompok atau antarindividu pada kelompok yang berbeda.
3.      Konflik Antarkelompok
Konflik yang bersifak kolektif antara satu kelompok dengan kelompok lain.
4.      Konflik Organisasi
Konflik yang terjadi antara unit organisasi yang bersifat struktural maupun fungsional.
     Mastenbroek dalam Soetopo (2010), membagi konflik menjadi 4 jenis, antara lain:
1.      Instrumental Conflicts
Terjadi karena ketidaksepakatan komponen organisasi dan proses pengoperasiannya.
2.      Socio-emotional Conflicts
Konflik ini berkaitan dengan identitas, kandungan emosi, citra diri, prasangka kepercayaan, rasa terikat dan identifikasi terhadap kelompok, lembaga, dan lambang-lambang tertentu, sistem nilai dan reaksi satu dengan yang lain.
3.      Negotiating Conflicts
Adalah ketegangan-ketegangan pada waktu terjadinya proses negosiasi, misalnya pada waktu membagi barang, uang, fasilitas, wewenang.
4.      Power and Dependency Conflicts
Konflik kekuasaan dan kebergantungan berkaitan dengan persaingan dalam organisasi.
 
D.  Proses Konflik
Menurut Robbins (2008), proses konflik dapat dipahami sebagai sebuah proses yang terdiri atas lima tahapan: potensi pertentangan atau ketidakselarasan, kognisi dan personalisasi, maksud, perilaku, dan akibat.
TAHAP I : POTENSI PERTENTANGAN DAN KETIDAKSELARASAN
Tahap pertama adalah munculnya kondisi yang member peluang terciptanya konflik. Kondisi-kondisi tersebut juga bisa dianggap sebagai sebab atau sumber konflik. Kategori umumnya antara lain :
–          Komunikasi
–          Strukur
–          variabel-variabel pribadi
TAHAP II : KOGNISI DAN PERSONALISASI
Tahap ini penting karena dalam tahap inilah biasanya isu-isu konflik didefinisikan. Pada tahap ini pula para pihak memutuskan konflik itu tentang apa.
Konflik yang dipersepsi adalah kesadaran oleh satu atau lebih pihak akan adanya kondisi-kondisi yang menciptakan peluang munculnya konflik.
Konflik yang dirasakan adalah keterlibatan dalam sebuah konflik yang menciptakan kecemasan, ketegangan, frustasi atau rasa bermusuhan.
TAHAP III : MAKSUD
Maksud adalah keputusan untuk bertindak dengan cara tertentu. Banyak konflik semakin rumit karena salah satu pihak salah dalam memahami maksud pihak lain.
Di sisi lain, biasanya ada perbedaan yang besar antara maksud dan perilaku, sehingga perilaku tidak selalu mencerminkan secara akurat maksud seseorang.
TAHAP IV : PERILAKU
Pada tahap inilah konflik mulai terlihat jelas. Tahap perilaku ini meliputi pernyataan, aksi, dan reaksi yang dibuat oleh pihak-pihak yang berkonflik. Perilaku konflik ini biasanya merupakan upaya untuk menyampaikan maksud dari masing-masing pihak.
TAHAP V : AKIBAT
Jalinan aksi-reaksi antara pihak-pihak yang berkonflik menghasilkan konsekuensi.  Konsekuensi atau akibat ini bisa saja bersifat fungsional atau disfungsional. Dikatakan bersifat fungsional ketika konflik tersebut justru menghasilkan perbaikan kinerja kelompok, sedangkan disfungsional adalah ketika konflik tersebut menjadi penghambat kinerja kelompok.
E.  Negosiasi
Negosiasi menurut Ivancevich (2007) sebuah proses di mana dua pihak ( atau lebih ) yang berbeda pendapat berusaha mencapai kesepakatan. Menurut Sopiah (2008), negosiasi merupakan suatu proses tawar-menawar antara pihak-pihak yang terlibat dalam konflik. Sedangkan Robbins ( 2008) menyimpulkan negosiasi adalah sebuah proses di mana dua pihak atau lebih melakukan pertukaran barang atau jasa dan berupaya untuk menyepakati nilai tukarnya.
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa negosiasi adalah suatu upaya yang dilakukan antara pihak-pihak yang berkonflik dengan maksud untuk mencari jalan keluar untuk menyelesaikan pertentangan yang sesuai kesepakatan bersama.
F.   Strategi  Negosiasi
1.      Negosiasi Menang-Kalah ( Win-Lose )
Pandangan klasik menyatakan bahwa negosiasi terjadi dalam bentuk sebuah permainan yang nilai totalnya adalah nol ( zero sum game ). Artinya apapun yang terjadi dalam negosiasi  pastilah salah satu pihak akan menang, sedangkan pihak yang lainnya kalah, atau biasa dikenal dengan pendekatan distributif (ivancevich,2007).
2.      Negosiasi Menang-Menang ( Win-Win )
Pendekatan yang sama-sama menguntungkan, atau pendekatan integratif , dalam bernegosiasi memberikan cara pandang yang berbeda dalam proses negosiasi. Negosiasi menang-menang adalah pendekatan penjumlahan positif.  Situasi –situasi penjumlahan positif adalah pendekatan di mana setiap pihak mendapatkan keuntungan tanpa harus merugikan pihak lain ( Ivancevich, 2007).
Dalam konteks organisasi, negosiasi dapat terjadi antara dua orang ( seperti antara atasan dengan bawahan dalam menentukan tanggal penyelesaian proyek yang dilimpahkan kepada bawahan), dalam satu kelompok ( seperti pada kebanyakan proses pengambilan keputusan dalam kelompok), antarkelompok ( seperti yang terjadi antara departemen pembelian dan penyedia material mengenai harga, kualitas, atau tanggal pengiriman), melalui internet ( Ivancevich, 2007)
G.  Proses Negosiasi
Robbins (2008) menjelaskan tahap-tahap negosiasi sebagai berikut:
1.      Persiapan dan perencanaan :sebelum bernegosiasi perlu mengetahui apa tujuan dari Anda bernegosiasi dan memprediksi rentangan hasil yang mungkin diperoleh dari “paling baik” hingga “paling minimum bisa diterima”.
2.      Penentuan aturan dasar: begitu selesai melakukan perencanaan dan menyusun strategi, selanjutnya mulai menentukan aturan-aturan dan prosedur dasar dengan pihak lain untuk negosiasi itu sendiri. Siapa yang akan melakukan perundingan? Di mana perundingan akan dilangsungkan? Kendala waktu apa, jika ada , yang mungkin akan muncul? Pada persoalan-persoalan apa saja negosiasi dibatasi? Adakah prosedur khusus yang harus diikuti jika menemui jalan buntu? Dalam fase ini, para pihak juga akan bertukar proposal  atau tuntutan awal mereka.
3.      Klarifikasi dan justifikasi: ketika posisis awal sudah saling dipertukarkan, baik pihak pertama maupun kedua akan memaparkan, menguatkan, mengklarifikasi, mempertahankan, dan menjustifikasi tuntutan awal.
4.      Penutupan dan implementasi : tahap akhir dalam negosiasi adalah memformalkan kesepakatan yang telah dibuat serta menyusun prosedur yang diperlukan untuk implementasi dan pengawasan pelaksanaan.
 
H.  Negosiasi Menggunakan Pihak Ketiga
Pihak ketiga dilibatkan saat pihak-pihak yang bernegosiasi mengalami jalan buntu,adakalanya pihak ketiga sengaja dilibatkan sejak awal proses negosiasi. Dalam keadaan apapun, negosiasi yang melibatkan pihak ketiga semakin banyak digunakan.
     Ivancevich( 2007: 63) salah satu tipologi menyebutkan setidaknya terdapat empat macam intervensi pihak ketiga yang mendasar:
1.      Mediasi adalah situasi di mana pihak ketiga yang netral menggunakan penalaran, pemberian usulan, dan persuasi dalam kapasitasnya sebagai fasilitator. Para mediator ini memfasilitasi penyelesaian masalah dengan mempengaruhi bagaimana pihak-pihak yang terlibat dalam negosiasi berinteraksi. Para mediator tidak memiliki otoritas yang mengikat, pihak-pihak yang terlibat bebas mengacuhkan usaha mediasi ataupun rekomendasi  yang dibuat oleh pihak ketiga
2.      Arbitrase adalah situasi di mana pihak ketiga memiliki wewenang memaksa terjadinya kesepakatan. Robbins ( 2008 ) kelebihan arbitrase dibanding mediasi adalah bahwa arbitrase selalu menghasilkan penyelesaian.
3.      Konsiliasi  adalah seseorang yang dipercaya oleh kedua pihak dan bertugas menjembatani proses komunikasi pihak-pihak yang bersitegang. Seorang konsiliator tidak memiliki kekuasaan formal untuk mempengaruhi hasil akhir negosiasi seperti seorang mediator.
4.      Konsultasi adalah situasi di mana pihak ketiga, yang terlatih dalam isu konflik dan memiliki keterampilan penyelesaian konflik, berupaya memfasilitasi pemecahan permasalahan dengan lebih memusatkan hubungan antarpihak ketimbang isu-isu yang substantif.
 
I. Strategi Manajemen Konflik
Strategi manjemen konflik diterapkan untuk menjadikan konflik dan pemecahannya sebagai pendinamisasi dan pengoptimalan pencapaian tujuan organisasi. Gordon , Miftah  ( dalam Sopiah, 2008) mengemukakan secara umum bahwa strategi manajemen konflik adalah sebagai berikut:
1.      Strategi Menang-Kalah
Strategi ini ada kalanya pihak tertentu menggunakan wewenang atau kekuasaan untuk memenangkan/menekan pihak lain.
2.      Strategi Kalah-Kalah
Strategi ini dapat berupa kompromi, di mana kedua belah pihak berkorban untuk kepentingan bersama.
3.      Strategi Menang-Menang
Konflik dipecahkan melalui metode problem solving. Metode ini dianggap paling baik karena tidak ada pihak yang dirugikan. Scmuck (1976) menunjukkan bahwa: (1) Metode pemecahan masalah mempunyai hubungan positif dengan manajemen konflik yang efektif, (2) pemecahan masalah banyak dipergunakan oleh pihak-pihak yang memiliki kekuasaan tetapi lebih suka bekerja sama.
Referensi:
1.      Ivancevich, John M., Robert Konopaske, Michael T. Matteson. 2007. Perilaku dan Manajemen Organisasi Edisi 7 (2). Jakarta: Erlangga
2.      Kreitner, Robert, Angelo kinicki. Tanpa Tahun. Perilaku Organisasi . Terjemahan Erly Suandy. 2005. Jakarta: Salemba Empat
3.      Robbins, Stephen P. Tanpa Tahun. Perilaku Organisasi. Terjemahan Hadyana Pujaatmaka. 2002. Jakarta: PT Prenhallindo
4.      Robbins, Stephen P., Timothy A. Judge. 2008. Perilaku Organisasi. Jakarta: Salemba Empat
5.      Soetopo, Hendyat. 2010. Perilaku Organisasi Teori dan Praktik di Bidang Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
6.      Sopiah. 2008. Perilaku Organisasional. Yogyakarta: Andi Offset
7.      Suprihanto, John, TH. Agung M. Harsiwi, Prakoso Hadi. 2003. Perilaku Organisasional. Yogyakarta: STIE YKPN

Ctt : Diambil dari berbgai sumber referensi!!!!

Leave a comment »

laporan, catatan lanjutan…

Teknik Penulisan Laporan

2/17/2010  NurAd1K  1 comment

A.Pengertian Umum.
Laporan adalah bentuk penyajian fakta tentang suatu keadaan atau suatu kegiatan.pada dasarnya,fakta yang disajikan itu berkenaan dengan tanggung jawab yang ditugaskan kepada si pelapor.Fakta yang disajikan merupakan bahan atau keterangan berdasarkan keadaan objektif yang dialami sendiri oleh si pelapor (dilihat,didengar,atau dirasakan sendiri) ketika si pelapor melakukan suatu kegiatan.Kemudian,laporan itu diberitahukan oleh si pelapor.
Dalam pembuatan suatu laporan formal bahasa yang digunakan haruslah bahasa yang baik,jelas dan teratur.Bahasa yang baik tidak berarti bahwa laporan itu mempergunakan gaya bahasa yang penuh hiasan,melainkan dari segi sintaksis bahasanya teratur,jelas memperlihatkan hubungan yang baik antara satu kata dengan kata yang lain dan antara satu kalimat dengan kalimat lain.
Penggunaan kata ganti orang pertama dan kedua harus dihindari,kecuali penggunaan kata”kami” bila yang menyampaikan laporan adalah suatu badan atau suatu tugas.

B.Macam – Macam Jenis Laporan.
Laporan ada dua macam,yaitu laporan hasil penelitian Ilmiah dan laporan Teknis.

1.Laporan Ilmiah.
Laporan Ilmiah adalah laporan yang disusun melalui tahapan berdasarkan teori tertentu dan menggunakan metode ilmiah yang sudah disepakati oleh para ilmuwan (E.Zaenal Arifin,1993).
Dan menurut Nafron Hasjim & Amran Tasai (1992) Karangan ilmiah adalah tulisan yang mengandung kebenaran secara obyektif karena didukung oleh data yang benar dan disajikan dengan penalaran serta analisis yang berdasarkan metode ilmiah.
1.1. Masalah yang dibahas dalam tulisan ilmiah dapat berupa:
a. Hasil penelitian.
b. Hasil pengamatn.
c. Pengalaman nyata.
d. Hasil pemikiran.
1.2. Jenis Laporan Ilmiah.
a. Laporan Lengkap (Monograf).
 Menjelaskan proses penelitian secara menyeluruh.
 Teknik penyajian sesuai dengan aturan (kesepakatan) golongan profesi dalam bidang ilmu yang bersangkutan.
 Menjelaskan hal-hal yang sebenarnya yang terjadi pada setiap tingkat analisis.
 Menjelaskan (juga) kegagalan yang dialami,di samping keberhasilan yang dicapai.
 Organisasi laporan harus disusun secara sistamatis (misalnya :judul bab,subbab dan seterusnya,haruslah padat dan jelas).
b. Artikel Ilmiah.
 Artikel ilmiah biasanya merupakan perasan dari laporan lengkap.
 Isi artikel ilmiah harus difokuskan kepada masalah penelitian tunggal yang obyektif.
 Artikel ilmiah merupakan pemantapan informasi tentang materi-materi yang terdapat dalam laporan lengkap.

c. Laporan Ringkas (Summary Report).
Laporan ringkas adalah penulisan kembali isi laporan atau artikel dalam bentuk yang lebih mudah dimengerti dengan bahasa yang tidak terlalu teknis (untuk konsumsi masyarakat umum).
1.3. Sistematika Laporan Ilmiah.
a. Judul.
b. Daftar Isi.
c. Prakata.
d. Pendahuluan.
e. Teks Pokok dalam Tubuh Karangan.
f. Pengutipan.
g. Referensi.
h. Catatan Kaki.
i. Tabel,Grafik,Bagan,dan Gambar.
j. Bibliografi.
k. Lampiran.
l. Indeks.

2. Laporan Teknis.
Laporan tentang hal teknis penyelenggaraan kegiatan suatu badan atau instansi.Laporan teknis mengandung data obyektif tentang sesuatu.data obyektif dalam laporan teknis itu juga mengandung sifat ilmiah,tetapi segi kepraktisannya lebih menonjol.sehingga yang dimaksud dengan laporan teknis adalah suatu pemberitahuan tentang tanggung jawab yang dipercayakan,dari si pelapor (perseorangan,tim,badan,atau instansi) kepada si penerima laporan tentang teknis penyelenggaraan suatu kegiatan (E.Zaenal Arifin,1993).Dan menurut Muljanto Sumardi (1982) Dalam laporan teknik manusia menggunakan bahasa tulis untuk mengkomunikasikan gagasan,paham,serta hasil pemikiran dan penelitian.

2.1. Tujuan Laporan Teknis.
Budaya lapor melapor merupakan sesuatu yang dianggap penting oleh berbagai kalangan,baik pemerintahan maupun swasta.Tujuannya adalah agar pelaksanaan tugas yang dipercayakan kepada si petugas dapat segera diketuhui oleh pihak yang menugasinya.
2.3. Manfaat Penyusunan Laporan Teknis.
a. Memberikan Keterangan.
Bermaksud memberikan keterangan kepada atasan atau pihak yang harus mengetahui suatu kegiatan.Jenisnya ada dua macam:
 Jenis pertama laporan memberi katerangan yang menyangkut perkembangan atau kegiatan rutin dari satu waktu ke waktu yang lain,laporan jenis ini sering disebut laporan berkala.ada laporan berkala harian,mingguan,bulanan dan tahunan.
 Jenis Kedua adalah laporan khusus yang bersifat insidental.Laporan khusus dapat berupa penyampaian hasil percobaan,pemeriksaan,atau hal-hal yang berhubungan dengan jalannya suatu kegiatan.
b. Memulai Suatu Kegiatan.
Dalam laporan jenis ini dicantumkan uraian tetang segala sesuatu yang berkenaan dengan tugas yang akan dilaksanakan.Penyajiannya harus tegas,terarah dan jelas.
c. Mengkoordinasi Suatu Kegiatan.
Laporan jenis ini berisi masalah pengaturan atau penempatan sesuatu pada tempatnya,susunannya atau keadaannya secara wajar.segala sessuatu yang dikoordinasi dikemukakan secara jelas dan padat.hanya pokok yang berhubungan dengan hal yang dikoordinasilah yang perlu dimasukan dalam laporan.
d. Merekam Pelaksanaan Kegiatan.
Laporan jenis ini dapat dibedakan atas laporan kemajuan dan laporan akhir.Laporan kemajuan disusun menurut jangka waktu tertentu.ada kalanya laporan kemajuan disusun tidak berdasarkan jangka waktu tertentu,tetapi berdasarkan persentase pencapaian.
Laporan akhir merupakan rangkuman keseluruhan pekerjaan hingga selesai.
2.4. Kesempurnaan Laporan Teknis.
a. Ringkas.
Dalam laporan yang ditulis hanya mengemukakan hal-hal pokok secara ringkas yang berhubungan dengan tugasnya sehingga penerima laporan segera mengetahui permasalahannya.
b. Lengkap.
Laporan dapat semakin sempurna jika dilengkapi dengan bibliografi atau sumber kepustakaan.
b. Logis.
Laporan dianggap logis jika keterangan yang dikemukakannya dapat ditelusuri alasan-alasannya yang masuk akal.
c. Sistematis.
Laporan dianggap sistematik jika keterangan yamg tulisannya disusun dalam satuan-satuan yang berurutan dan saling berhubungan.
d. Lugas.
Laporan disebut lugas apabila keterangan yang diuraikannya disajikan dalam bahasa yang langsung menunjukan persoalan.
2.5. Sistematika LaporanTeknis.
a. Bagian Awal.
 Kulit luar laporan teknis.
 Halaman judul laporan teknis.
 Kata pengantar/Prakata.
 Daftar isi.
 Daftar tabel.
 Daftar gambar,grafik,diagram(jika ada).
b. Batang Tubuh.
 Pendahuluan.
 Pembahasan/uraian.
 Simpulan/penutup.
c. Bagian Akhir.
 Daftar pustaka.
 Lampiran.

C.Perbedaan Sistematika Laporan.
1.Kerangka Karangan Ilmiah.
PRAKATA
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMBANG DAN SINGKATAN
SINOPSIS
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan
1.3 Kerangka Teori
1.4 Ruang Lingkup
1.5 Sumber Data
1.6 Metode dan Teknik
BAB II ANALISIS/PEMBAHASAN
2.1 ….
2.2….
2.3 …
2.3.1 ….
2.4 ….
BAB III SIMPULANDANSARAN
Simpulan
Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
INDEKS

2.Kerangka Laporan Teknis.
PRAKATA
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan
1.3 Hasil yang diharapkan
1.4 Pelaksana
1.5 Penahapan dan Jadwal
BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1 ….
2.2….
2.3 …
2.3.1 ….
2.3.2…..
2.4 …
BAB III URAIAN KEGIATAN
3.1 …
3.2 …
3.3 …
3.3.1 …
3.3.2 …
3.4 …
BAB IV SIMPULAN DAN SARAN
4.1 simpulan
4.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

Daftar Pustaka

Arifin,E Zaenal 1993.Bahasa Yang Lugas Dalam Laporan Teknis.Cetakan I.Jakarta:CV Akademika Pressindo.

Hasjim, Nafron & Tasai, Amran 1992.Komposisi Dalam Bahasa Indonesia.Cetakan I.Jakarta:Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Sumardi, Muljanto 1982.Majalah Pembinaan Bahasa Indonesia.Jilid III.Jakarta:Penerbit Bhratara Karya Aksara.

Leave a comment »

bab 10 tentang laporan, materi bahasa indonesia kelas xi smk

Bahasa Indonesia: LAPORAN (Report)

 

Laporan adalah karangan yang berisikan paparan peristiwa/kegiatan yang telah dilakukan.
Laporan dapat berupa laporan perjalanan, laporan kegiatan atau laporan pengamatan.
Topik laporan adalah pokok yang dibicarakan atau dibahas dalam laporan.

Ciri laporan yang baik :

  1. Ditulis dalam bahasa yang baik dan jelas.
  2. Didasarkan oleh fakta yang benar dan meyakinkan.
  3. Disajikan secara lengkap.
  4. Menarik dan enak dibaca.

Kerangka laporan :

1. Pendahuluan

  • Berisi latar belakang sebuah kegiatan dilaksanakan.

2. Isi laporan

  • Berisi rincian kegiatan yang dilakukan beserta hasilnya.
  • Kegiatan yang dilaporkan lengkap dengan nama, tempat, waktu, dan orang yang terlibat dalam kegiatan.

3. Penutup

  • Berisi kesimpulan dari laporan.

4. Laporan diakhiri dengan identitas pembuat laporan.

Laporan mempunyai peranan yang penting pada suatu organisasi karena dalam suatu organisasi dimana hubungan antara atasan dan bawahan merupakan bagian dari keberhasilan organisasi tersebut. Dengan adanya hubungan antara perseorangan dalam suatu organisasi baik yang berupa hubungan antara atasan dan bawahan, ataupun antara sesama karyawan yang terjalin baik maka akan bisa mewujudkan suatu sistem delegation of authority dan pertanggungjawaban akan terlaksana secara effektif dan efisien dalam organisasi. 

    
       Pengertian laporan adalah bentuk penyajian fakta tentang suatu keadaan atau suatu kegiatan, pada dasarnya fakta yang disajikan itu berkenaan dengan tanggung jawab yang ditugaskan kepada si pelapor. Fakta yang disajikan merupakan bahan atau keterangan berdasarkan keadaan objektif yang dialami sendiri oleh si pelapor (dilihat, didengar, atau dirasakan sendiri) ketika si pelapor melakukan suatu kegiatan. 
 
       Dalam pembuatan suatu laporan formal, bahasa yang digunakan haruslah bahasa yang baik, jelas dan teratur. Bahasa yang baik tidak berarti bahwa laporan itu mempergunakan gaya bahasa yang penuh hiasan, melainkan dari segi sintaksis bahasanya teratur, jelas memperlihatkan hubungan yang baik antara satu kata dengan kata yang lain dan antara satu kalimat dengan kalimat lain. Penggunaan kata ganti orang pertama dan kedua harus dihindari, kecuali penggunaan kata ”kami” bila yang menyampaikan laporan adalah suatu badan atau suatu tugas.
 
2. Prinsip – prinsip penulisan Laporan
 
 
    Laporan pada dasarnya adalah alat komunikasi juga. Supaya dapat digunakan sebagai alat komunikasi yang efektif, sebuah laporan harus memenuhi syarat–syarat berikut ini.
1. Lengkap
    Artinya data dan fakta yang ada dalam laporan harus lengkap

2. Jelas
   Sebuah laporan disebut jelas bila uraian dalam laporan tidak memberi peluang ditafsirkan secara berbeda oleh pembaca yang berbeda. Ini dapat dicapai bila bahasa yang digunakan benar dan komunikatif

3. Benar / akurat
   Data dan fakta yang salah dapat menuntun pembaca membuat suatu keputusan yang salah. Jadi kebenaran dan keakuratan isi laporan sangat diperlukan.

4. Sistematis
    Laporan harus diorganisasikan sedemikian rupa, dengan system pengkodean yang teratur, sehingga mudah dibaca dan diikuti oleh pembaca. Laporan yang sistematis juga menunjang unsur kejelasan yang sudah diciptakan oleh unsur – unsur bahasa.

5. Objektif
    Penulis laporan tidak boleh memasukkan selera pribadi ke dalam laporannya. Pelapor harus bersikap netral dan memakai ukuran umum dalam minilai sesuatu.

6. Tepat waktu
   Ketepatan waktu mutlak diperlukan, karena keterlambatan laporan bisa mengakibatkan keterlambatan pengambilan keputusan.

 
3. Struktur / Sistematika Laporan
 
 
 
laporan lengkap yang lengkap, harus dapat menjawab semua pertanyaan mengenai : apa ( what ), mengapa ( why ), siapa ( Who ), dimana ( where ), kapan ( when ), bagaimana ( how ).
Urutan isi laporan sebaiknya diatur, sehingga penerima laporan dapat mudah memahami. Urutan isi laporan antara lain sebagai berikut :
1. Pendahuluan
Pada pendahuluan disebutkan tentang :
1) Latar belakang kegiatan.
2) Dasar hukum kegiatan.
3) Apa maksud dan tujuan kegiatan.
4) Ruang lingkup isi laporan.
2. Isi Laporan
Pada bagian ini dimuat segala sesuatu yang ingin dilaporkan antara lain :
1) Jenis kegiatan.
2) Tempat dan waktu kegiatan.
3) Petugas kegiatan.
4) Persiapan dan rencana kegiatan.
5) Peserta kegiatan.
6) Pelaksanaan kegiatan (menurut bidangnya, urutan waktu pelaksanaan, urutan fakta / datanya).
7) Kesulitan dan hambatan hasil kegiatan.
9) Kesimpulan dan saran penyempurnaan kegiatan yang akan datang.
3. Penutup
Pada kegiatan ini ditulis ucapan terima kasih kepada yang telah membantu penyelenggaraan kegiatan itu, dan permintaan maaf bila ada kekurangan-kekurangan. Juga dengan maksud apa laporan itu dibuat.
4. Jenis – jenis Laporan
 
 
  • Laporan informativ, yaitu laporan yang dimaksudkan untuk memberi informasi dan bukan dimaksudkan untuk memberi analisis atau rekomendasi. Titik pentingnya adalah pemberian informasi yang akurat dan terinci.
  • Laporan rekomendasi, yaitu laporan yang di samping memberikan informasi juga menyertakan pendapat si pelapor, dengan maksud memberikan rekomendsasi (usul yang tidak mengikat). Meski demikian akurasi dan rincian informasi tetap diperlukan supaya rekomendasi yang diberikan juga meyakinkan.
  • Laporan analitis, yaitu laporan yang memuat sumbangan pikiran si pelapor, bisa berupa pendapat atau saran, setelah melalui analitis yang matang dan mendalam. Kebanyakan laporan akademis berada pada kategori ini.
  • Laporan Pertanggungjawaban, di mana si pelapor memberi gambaran tentang pekerjaan yang sedang dilaksanakan (Progress report) atau sudah dilaksanakan (bersifat evaluatif).
  • Laporan Kelayakan (feasibility report). Pelapor menganalisis suatu situasi atau masalah secara mendalam untuk menuju penilaian yang bersifat pilihan: layak atau tidak. Berbagai alternative dinanalisis, kemudian ditentukan mana yang lebih baik.

5. Contoh Laporan Resmi

 
M-12A
Informasi dan Persyaratan
Program Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) – 2010
Universitas Katolik Parahyangan Bandung
Sebagai sebuah institusi pendidikan tinggi yang mengutamakan kualitas, Universitas Katolik Parahyangan Bandung (UNPAR) selalu berupaya dari tahun ke tahun untuk memperoleh mahasiswa baru yang berprestasi baik dan bermotivasi tinggi. Sejalan dengan itu, UNPAR menawarkan program Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) untuk diterima sebagai mahasiswa UNPAR, di samping tetap pula menyelenggarakan Ujian Saringan Masuk (USM) yang akan dilaksanakan dalam 3 (tiga) gelombang, yaitu pada hari Minggu, 31 Januari, 9 Mei dan 25 Juli 2010 di Kampus UNPAR Bandung.
Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh calon mahasiswa baru yang melamar untuk diseleksi melalui program PMDK ini adalah sebagai berikut :
1. Memiliki minat yang tinggi untuk melanjutkan studi ke UNPAR dan akan mengambil haknya sebagai mahasiswa UNPAR, apabila kemudian dinyatakan lulus seleksi program PMDK dan lulus SMA;
2. Terdaftar sebagai siswa SMA kelas XII pada tahun ajaran 2009/2010;
3. Hanya memilih 1 (satu) program studi yang paling diminati dari daftar program studi yang tersedia di UNPAR (terlampir);
4. Memenuhi syarat nilai minimal untuk mata pelajaran tertentu, sebagai berikut:
a. Untuk peminat program studi Ekonomi Pembangunan, Manajemen, Akuntansi, Ilmu Hukum, Ilmu Administrasi Publik, Ilmu Administrasi Bisnis, Ilmu Hubungan Internasional, Teknik Sipil, Arsitektur, Ilmu Filsafat, Teknik Industri, Teknik Kimia, Matematika, Fisika, Teknik Informatika, dan Program Diploma III Manajemen Perusahaan : nilai rata-rata mata pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris mulai dari SMA kelas X sampai dengan SMA kelas XI tidak kurang dari 7 (tujuh) dan nilai rapor terendah 6,5.
b. Untuk peminat program studi Teknik Sipil dan program studi Fisika ditambahkan syarat nilai rata-rata Fisika mulai dari SMA kelas X sampai dengan SMA kelas XI tidak kurang dari 7 (tujuh), dengan nilai rapor terendah 6,5.
c. Untuk peminat program studi Ilmu Hukum, ditambahkan syarat nilai rata-rata Bahasa Indonesia dan Pendidikan Kewarganegaraan, mulai dari SMA kelas X sampai dengan SMA kelas XI tidak kurang dari 7 (tujuh) dan nilai rapor terendah 6,5.
d. Untuk peminat program studi Arsitektur, ditambahkan syarat nilai Menggambar mulai SMA kelas X sampai dengan SMA kelas XI tidak kurang dari 7 (bila dalam kurikulum terdapat pelajaran Menggambar) dan melampirkan gambar hasil karya sendiri sesuai dengan soal dan ketentuan terlampir (form M-12Aa).
5. Mengirimkan masing-masing 1 (satu) lembar :
(a) Surat Lamaran (Form M-12B) dan Formulir Data Siswa (Form M-12C) yang telah dilegalisasi oleh Kepala Sekolah,
(b) Surat rekomendasi dari Kepala Sekolah (Form M-12D),
(c) Fotokopi rapor SMA, SMA kelas X sampai dengan kelas XI, yang telah dilegalisasi oleh Kepala Sekolah,
(d) Pas Foto terbaru berwarna ukuran 4 cm x 6 cm,
(e) Fotokopi sertifikat prestasi akademik dan/atau ekstra-kurikuler siswa (jika ada),
(f) Hasil Gambar sesuai soal form M-12Aa, dan ketentuan yang diberikan (khusus pelamar Program Studi Arsitektur).
Seluruh berkas lamaran peminat seleksi program PMDK UNPAR dikirimkan kepada :
Panitia PMDK Universitas Katolik Parahyangan
u.p. Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan / BAAK (Gedung 0 lantai 3)
Jl. Ciumbuleuit No. 94, Bandung 40141
Berkas tersebut harus sudah diterima panitia selambat-lambatnya tanggal 23 November 2009.
Hasil seleksi program PMDK ini akan diumumkan pada tanggal 16 Desember 2009.
Pelamar yang lolos seleksi dapat dinyatakan diterima sebagai mahasiswa baru UNPAR apabila telah menyerahkan Surat Keterangan Lulus SMA yang memenuhi syarat, dan Ijazah SMA.
Ketentuan yang berlaku bagi calon mahasiswa yang diterima melalui seleksi program PMDK :
a) Melakukan pendaftaran ulang pada jadwal yang telah ditetapkan,
b) Melunasi 100% (seratus persen) kewajiban keuangan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan, selambat-lambatnya tanggal 29 Januari 2010 dengan mengetahui bahwa dana yang telah dibayarkan tidak dapat diminta kembali dengan alasan apapun juga (surat pernyataan akan menyusul).
Sebagai tambahan informasi :
♦ Siswa berprestasi di bidang akademik “sangat memuaskan” yang diterima melalui seleksi program PMDK namun mengalami kesulitan ekonomi dan siswa yang berprestasi di bidang ekstra-kurikuler diberi kesempatan untuk mengajukan permohonan beasiswa UNPAR melalui rekomendasi Kepala Sekolah dengan mengisi form M-12F;
Sebagai bahan pertimbangan, biaya pendidikan yang harus dibayar oleh mahasiswa baru UNPAR pada tahun akademik 2010/2011, adalah :
♦ Biaya Registrasi dan Pengembangan : Rp. 17.500.000,-
(dengan subsidi untuk beberapa program studi tertentu)
♦ Sumbangan pengembangan sukarela (tambahan) : Rp. …………………,-
(boleh 0 atau kelipatan Rp. 1.000.000,-)
♦ Biaya sks : Rp. 180.000,-/per-sks
♦ Biaya responsi/asistensi : Rp. 200.000,-
(bervariasi tergantung Program studi, maksimal
beberapa ratus ribu rupiah per semester untuk
program studi IPA)
♦ Biaya studio (untuk program studi Arsitektur) : Rp. 365.000,-/studio
♦ Biaya praktikum : Rp. 370.000,-
(bervariasi tergantung Jenis praktikum)
Apabila diperlukan informasi lebih lanjut, dipersilakan untuk menghubungi Panitia PMDK UNPAR 2010 melalui pesawat telepon (022) 2032655 ext. 150 (ibu Nunung) atau e-mail nunung@home.unpar.ac.id
Atas perhatian Ibu/Bapak kami mengucapkan terima kasih.
Bandung, 14 Oktober 2009
Rektor,
u.b.
Prof. Paulus Pramono Rahardjo, Ph.D.
Wakil Rektor Bidang Akademik
Tembusan :
1. Ketua Umum Pengurus Yayasan
2. Rektor (sbg. Laporan)
3. Para Wakil Rektor
4. Para Dekan Fakultas
M-12Aa
KETENTUAN DAN PERSYARATAN
PROGRAM PENELUSURAN MINAT DAN KEMAMPUAN
(PMDK) TAHUN AKADEMIK 2010/2011
PROGRAM STUDI ARSITEKTUR – FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN BANDUNG
Ketentuan dan Persyaratan
‐ Siswa kelas 3 SMA jurusan IPA tahun akademik 2009/2010,
‐ Mengisi formulir data lamaran peserta PMDK UNPAR tahun 2010,
‐ Menyertakan fotokopi rapor yang telah dilegalisir oleh Kepala Sekolah, dengan nilai rata-rata 7 (kelas X dan kelas XI) untuk mata pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris, nilai terendah 6,5.
‐ Menyerahkan hasil gambar yang sesuai dengan ketentuan soal di bawah ini, membuat pernyataan pada lembar Gambar yang ditandatangani oleh siswa ybs. bahwa gambar ini hasil karya sendiri *), kemudian ditanda tangani oleh Kepala Sekolah, dan stempel sekolah.
Soal test gambar Jurusan Arsitektur melalui PMDK
• Semua gambar dibuat tanpa bantuan alat penggaris. Pada kertas gambar ukuran A3, bolak-balik. Cantumkan nomor soal pada setiap lembar dan gambar.
• Gambar dibuat menggunakan pensil 2B. Cantumkan nama, nomor induk sekolah, nama sekolah, dan tandatangan peserta.
• Dikerjakan di dalam kelas secara serentak di bawah pengawasan guru, dalam waktu paling lama 3 jam. Dikumpulkan, dibubuhi stempel sekolah, dan tandatangan kepala sekolah.
Soal 1. Kemampuan mengekspresikan daya visualisasi imajinatif berdasarkan narasi
Pada tanggal 17 Agustus 2009 pagi para siswa SMU berbaris sesuai masing-masing kelas memenuhi lapangan upacara sekolah yang dikelilingi oleh deretan kelas dan ruang kantor guru serta perpustakaan. Kerindangan barisan pepohonan di pinggir jalan terlihat sebagai latar belakang ruang-ruang kelas.
Di utara lapangan upacara, terlihat para guru berdiri diserambi kelas, bersiap untuk mengikuti upacara penaikan bendera merah putih, di timur lapangan, satu siswi dan dua siswa yang bertugas sebagai pengerek bendera juga sedang bersiap-siap menuju tiang bendera yang berada 5 meter didepan barisan para guru. Gambarkan suasana tersebut, dari posisi anda yang berdiri di barat lapangan upacara tersebut.
Soal 2. Kemampuan mengekspresikan daya visualisasi imajinatif melalui gambar komposisi, bentuk, tekstur, serta detail dari beberapa benda geometric dan non-geometrik
Gambarkan suasana sebuah ruangan makan yang terdapat lemari setinggi 150 cm dari lantai. Setengah pintu lemari bagian atas berupa kaca mengkilap. Di dinding yang berseberangan dengan lemari tersebut tergantung jam dinding. Selain lemari tersebut, terdapat perabot ruang makan lainnya yang terlihat dari pintu terbuka ruangan di sebelahnya.
Soal 3. Kemampuan mengekspresikan daya visualisasi imajinatif melalui komposisi grafis 2 dimensi
Buatlah 3 buah bujursangkar berukuran 10 x 10 cm, dan satu lingkaran dengan diameter 8cm, berjarak 2 cm satu sama lain. Isi bujursangkar pertama dengan tarikan garis arsir secara diagonal. Pada bujursangkar kedua isi dengan arsiran vertikal dan horisontal sejajar sisi bujursangkar secara saling menyilang . Jarak antar arsiran lebih kurang 1 mm. Pada bujursangkar ketiga, isilah dengan sebaran lingkaran secara acak dengan diameter 1 , 2 , dan 3 cm dan titik-titik hitam berdiameter 3 mm. Pada lingkaran isi dengan garis bergelombang dengan jarak lebih kurang 0,8 mm.
Soal 4. Kemampuan mengekspresikan daya visualisasi imajinatif melalui gambar simbol
Tuliskan teks sasanti UNPAR ini, di dalam sebuah persegi panjang (8 x 25 cm) sebagai berikut:
BAKUNING HYANG MRIH GUNA SANTYAYA BHAKTI
Berdasarkan Ketuhanan Menuntut Ilmu Untuk Dibaktikan Kepada Masyarakat
Tinggi semua hurup 1,5 cm. Lebar huruf, jarak huruf dan jarak spasi antar baris diserasikan dengan bidang persegipanjang dan tinggi huruf.
Buatlah juga logo yang terdiri dari angka 50 th. Ukuran logo paling besar pada bidang bujur sangkar (5×5 cm) atau lingkaran (diameter 5 cm). Logo diletakkan 1 cm di bawah persegi panjang (teks) tersebut.
= Selamat Menggambar, Semoga Sukses =
*)Contoh pernyataan (ditulis tangan siswa ybs.)
Bersama ini saya menyatakan dengan sungguh‐sungguh bahwa “Gambar ini merupakan hasil karya saya sendiri”
M-12B
HAL : LAMARAN SISWA UNTUK PROGRAM PMDK 2010 UNPAR
Diisi oleh Panitia PMDK
Kepada Yth. :
Rektor Universitas Katolik Parahyangan Bandung
u.p. Panitia Seleksi PMDK
Jl. Ciumbuleuit No. 94
Bandung 40141
Sesuai dengan Pengumuman Universitas Katolik Parahyangan Bandung untuk menerima mahasiswa baru melalui jalur penelusuran minat dan kemampuan (PMDK) 2010, dengan ini saya bermaksud melamar untuk ikut dalam proses seleksi tersebut.
Nama lengkap : …………………………………………………………….………………
Jenis Kelamin : ………………………
Alamat rumah : ……………………………………………………………………………..
……………………………………………………………………………..
Kode Pos : ………………… Telp. (………) ………………..
Nama sekolah : ……………………………………………………………………………..
Alamat sekolah : ……………………………………………………………………………..
……………………………………………………………………………..
Kode Pos : ………………… Telp. (………) ………………….
Kelas XII SMA : Jurusan IPS / IPA / Bahasa (lingkari yang sesuai)
Program studi pilihan : ………………………………………… (hanya satu program studi)
Untuk bahan pertimbangan, dengan ini saya lampirkan :
1. Data calon (Form M-12C) yang telah dilegalisasi oleh Kepala Sekolah
2. Fotokopi rapor kelas X s.d. kelas XI, yang telah dilegalisasi oleh Kepala Sekolah
3. 1 (satu) lembar pasfoto resmi terbaru ukuran 4 X 6 cm berwarna
4. Surat rekomendasi yang jelas dan rinci dari Kepala Sekolah (Form M-12D)
5. Fotokopi sertifikat prestasi akademik dan/atau ekstra-kurikuler (jika ada)
6. 1 (satu) berkas hasil Gambar sesuai soal dan ketentuan form M-12Aa
7. Surat maksimal 1 halaman kertas A4 (ditulis tangan) menguraikan tentang “Mengapa saya memilih UNPAR, dan alasan ingin studi pada program studi yang dipilih”.
Demikian surat lamaran ini saya buat untuk dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan oleh Universitas Katolik Parahyangan Bandung dalam proses seleksi PMDK tahun 2010.
_____ , ____________ 2009
Mengetahui Menyetujui Siswa Pelamar
Kepala Sekolah Orang tua/Wali
(______________) (_______________) (_______________)
M-12C
DATA SISWA PELAMAR PROGRAM PMDK 2010 UNPAR
Data Siswa
Nama lengkap : …………………………………….………………….………………………………
Tempat/tgl. Lahir : …………………………………………………………………………………………
Kewarganegaraan : WNI / WNA (lingkari yang sesuai)
Kelas XII SMA : Jurusan IPA / IPS / BAHASA (lingkari yang sesuai)
Alamat rumah : …………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………..………………………….
Kode Pos : ……………… Telp./HP. : (…….) ………………………
Faks. :(……) …………………..E-mail : ……..….……………………
Alamat di Bandung : ……………………………………………………………………………….……….
(jika berbeda dgn di atas) …… …………………………………………………………………………….……
Kode Pos : ………… Telp./HP. : (…….) …..…………….……
Pilihan Program studi : ……………………………………………. (hanya satu program studi)
Data Orangtua/Wali
Nama lengkap : …………………………………………………………………………..…(ayah)
……………………………………………………………………………… ( ibu )
Alamat : …………………………………………………………………………………….….
Kode Pos : ……………… Telp./HP. : (…….) ………………………
Faks. :(……) …………………..E-mail : ……..….……………………
Pekerjaan : …………………………………………………………………………..…(ayah)
……………………………………………………………………………… ( ibu )
Saya yang bertandatangan di bawah ini menyatakan bahwa :
1. Data di atas adalah data yang sebenarnya dan sejujurnya,
2. Berjanji akan mendaftarkan diri menjadi mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan Bandung bilamana saya dinyatakan diterima melalui seleksi PMDK ini dan dinyatakan lulus SMA,
3. Jika saya mengundurkan diri / tidak mendaftarkan diri sebagai mahasiswa UNPAR, seluruh biaya yang sudah disetorkan kepada UNPAR, tidak akan saya minta kembali.
4. Saya memerlukan / tidak memerlukan*) dukungan beasiswa dari UNPAR.
_______________ , ____________ 2009
Mengetahui, Menyetujui, Siswa Pelamar,
Kepala Sekolah Orang tua/Wali
(______________) (_______________) (_______________)
*) bila memerlukan, harap mengisi form M-12F
M-12D
SURAT REKOMENDASI
Saya yang bertandatangan di bawah ini :
Nama lengkap : …………………………………………………………………………………………………….
Jabatan : Kepala Sekolah SMA …..…………………………………………………………….
Alamat sekolah : …………………………………………………………………………………………………….
…………………………………………………………………………………………………….
Kota : ………………………………………… Kode Pos : …………………………
Telepon : (……….) ………………………………….. Faks : ( ……… ) …………………….
Alamat e-mail : ……………………………………………………………………………………………………
Dengan ini menerangkan bahwa :
Nama lengkap : …………………………………………………………………………………………………….
Tempat/tgl.lahir : ………………………………..…..…………………………………………………………….
Adalah benar siswa SMA : ………………………………………………….…… sejak tahun …………………..
Dan saat ini belajar di kelas XII SMA jurusan …………………………… (diisi sesuai dengan kenyataan)
Selama mengikuti pendidikan di SMA ini, siswa tersebut memiliki prestasi akademik yang tinggi dan sikap yang baik, mau bekerja keras serta memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar. Saya juga memberi jaminan bahwa siswa tersebut memang memiliki minat yang besar dalam program studi yang dia pilih, sehingga apabila ia lolos seleksi program PMDK, ia akan mengambil hak yang diberikan kepadanya sebagaimana tercantum dalam pernyataan di form M-12C.
Prestasi yang saya pandang dapat mendukung agar siswa tsb. dipertimbangkan adalah :
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..…….
Catatan : Siswa yang bersangkutan perlu diberi beasiswa : Ya / Tidak (lingkari yang sesuai)
Alasan : (dapat dilengkapi dengan keterangan lain yang menguatkan, bila perlu)
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Melalui surat ini, kami merekomendasikan siswa tersebut di atas untuk mengikuti seleksi PMDK Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun akademik 2010/2011
_____ , _______________ 2009
Hormat kami,
(_________________________)
Nama jelas, Tandatangan dan Cap Sekolah
DAFTAR PROGRAM STUDI YANG TERSEDIA
DI UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN BANDUNG
PROGRAM SARJANA (S-1)
(semua memiliki status terakreditasi)
No.
Fakultas
Program Studi
Syarat Ijazah SMA
1.1 Ekonomi Pembangunan
1.2 Manajemen
1
Ekonomi
1.3 Akuntansi
Lulusan SMA IPA/IPS
2
Hukum
2.1 Ilmu Hukum
Lulusan SMA IPA/ IPS/Bahasa
3.1 Ilmu Administrasi Publik
3.2 Ilmu Administrasi Bisnis
3
Ilmu Sosial & Ilmu
Politik
3.3 Ilmu Hubungan Internasional
Lulusan SMA IPA/ IPS/Bahasa/SMK
4.1 Teknik Sipil
4
Teknik
4.2 Arsitektur
Lulusan SMA IPA
5
Filsafat
5.1 Ilmu Filsafat
Lulusan SMA /SMK semua jurusan
6.1 Teknik Industri
6
Teknologi Industri
6.2 Teknik Kimia
Lulusan SMA IPA
7.1 Matematika
7.2 Fisika
Lulusan SMA IPA atau A1/A2
7
Teknologi Informasi dan Sains
7.3 Teknik Informatika
Lulusan SMA IPA
PROGRAM DIPLOMA III (D-III)
(memiliki status terakreditasi)
No.
Fakultas
Program Studi
Syarat Ijazah SMA
1
Ekonomi
Manajemen Perusahaan
Lulusan SMA IPS/IPA, atau A1/A2/A3/A4, SMK
Bandung, September 2009
Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan
Universitas Katolik Parahyangan Bandung
M-12E
FORMULIR BIAYA PENGEMBANGAN SUKARELA
Perhatian : formulir ini digunakan untuk menambah biaya pengembangan sukarela ,
bukan untuk mengurangi
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya peserta seleksi program PMDK-2010 Universitas Katolik Parahyangan Bandung,
1. Nama lengkap : ……………………………………………………………………………………………………..
2. Alamat rumah : ……………………………………………………………………………………………………..
3. No. Telpon : ……………………………………………………………………………………………………..
4. Nama SMA : ……………………………………………………………………………………………………..
5. Alamat SMA : ……………………………………………………………………………………………………..
6. Jurusan di SMA : IPS / IPA / BAHASA (lingkari yang sesuai)
7. Program studi pilihan : ………………………………………………………………………………………….
Menyatakan bila saya diterima sebagai mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan Bandung, akan memberikan Sumbangan Sukarela, sejumlah :
Rp. …………………………………….. *)
Terbilang : ………………………………………………………………………………………………..
Demikian pernyataan ini saya buat dengan penuh kesadaran dan tidak ada paksaan dari pihak manapun.
Menyetujui, ……………………………… , 2009
Orangtua/Wali, Peserta Seleksi PMDK-2010,
___________________ _______________________
(ttd & nama jelas) (ttd & nama jelas)
Keterangan :
*) Bila diisi, minimal nol atau kelipatan Rp. 1.000.000,-
Bila tidak diisi perlu dicoret dengan tanda silang. ( X )
Bila merasa perlu beasiswa, JANGAN mengisi lembar ini.
Sumbangan Sukarela ini berpengaruh jika jumlah peminat terlalu banyak, dan kualitas prestasi studi di SMA agak rentan dalam bersaing
M-12F
Surat Permohonan Beasiswa
H a l : Permohonan Beasiswa Prestasi Akademik/Ekstra-kurikuler *)
Lamp. : 1 (satu) berkas
Tanggal :
Kepada Yth.
Rektor Universitas Katolik Parahyangan Bandung
Bandung
Saya yang bertanda tangan di bawah ini,
N a m a :
Alamat :
No. Telepon :
mengajukan permohonan untuk memperoleh beasiswa Prestasi Akademik / Ekstra-kurikuler *), apabila saya dinyatakan lulus melalui seleksi PMDK UNPAR tahun 2010.
Permohonan ini saya ajukan, karena alasan/pertimbangan sebagai berikut :
1.
2.
3.
Dengan ini pula saya sertakan surat-surat pendukung yang dapat memperjelas bahwa saya layak memperoleh beasiswa tersebut.
Atas perhatian Ibu, saya ucapkan terimakasih.
Hormat saya, Mengetahui orangtua/wali,
(…………………………………….) ( …………………………………….)
Ttd & nama jelas Ttd & nama jelas
*) coret yang tidak perlu

 

Leave a comment »

materi BAHASA INONESIA KELAS XI SMK, bab 6 : DISKUSI

DISKUSI
 
1. Pengertian Diskusi
Diskusi adalah pertukaran pikiran, gagasan, pendapat antara dua orang atau lebih secara lisan dengan tujuan mencari kesepakatan atau kesepahaman gagasan atau pendapat. Diskusi yang melibatkan beberapa orang disebut diskusi kelompok. Dalam diskusi kelompok diperlukan seorang pemimpin yang disebut ketua diskusi. Tugas ketua diskusi adalah membuka dan menutup diskusi, membangkitkan minat anggota untuk menyampaikan gagasan, menengahi anggota yang berdebat, serta mengemukakan kesimpulan hasil diskusi.
Diskusi yang melibatkan orang banyak dapat berupa diskusi panel, simposium, seminar, lokakarya, serta rapat kerja. Diskusi panel merupakan salah satu bentuk diskusi resmi yang dihadiri oleh orang banyak dan para panelisnya pun golongan cendekiawan dalam bidangnya.
Pelaksanaan diskusi panel secara umum seperti berikut ini :
Pertama-tama moderator/ pemandu diskusi membuka acara diskusi dengan menyampaikan tema yang dibahas. Kemudian, panelis/pembicara menyampaikan gagasannya, acara dilanjutkan dengan tanya jawab antara peserta dan panelis. Akhirnya, acara ditutup dengan simpulan yang disampaikan oleh moderator.
Dalam keterampilan berbicara perlu diperhatikan bahwa penggunaan bahasa tidak hanya mudah ditangkap, sopan, dan tidak menyinggung, tetapi juga mempermudah bertukar pikiran mengenai sesuatu masalah.
 
2. Macam-macam Diskusi
Berikut ini macam-macam diskusi.
a.      Diskusi Kelompok
Dalam diskusi ini perlu ada ketua atau moderator, notulis, dan beberapa peserta yang sekaligus sebagai penyaji maupun penyanggah.
Penyaji tidak perlu menggunakan makalah atau kertas kerja. Pada akhir diskusi moderator menyampaikan hasil diskusi.
b.      Diskusi Panel
Diskusi ini biasanya digunakan untuk memperluas wawasan mengenai sesuatu masalah yang sedang hangat. Diskusi ini melibatkan beberapa pakar dari disiplin ilmu atau profesi yang berbeda untuk bertindak sebagai panelis/pembicara. Moderator bisa langsung bertanya kepada panelis untuk menggali pandangan/pendapat. Peserta diskusi diberi kesempatan untuk bertanya atau menanggapi/menyanggah pendapat para panelis. Pada akhir diskusi moderator menyajikan pokok-pokok pikiran hasil diskusi.
c.       Seminar
Bentuk diskusi ini digunakan untuk mencari kesepakatan/kesamaan langkah atau pandangan dalam menghadapi persoalan sifatnya formal, sehingga para pemrasaran menyiapkan kertas kerja/ makalah untuk disajikan. Para peserta diskusi diberi kesempatan untuk menanggapi ataupun menyanggah makalah tersebut. Pada akhir diskusi moderator menyampaikan hasil pemikiran.
d.       Simposium
Diskusi yang diselenggarakan untuk membahas prasaran-prasaran mengenai suatu pokok persoalan atau masalah.
e.       Lokakarya
Lokakarya adalah diskusi atau pertemuan para ahli (pakar) untuk membahas suatu masalah di bidangnya.
f.       Kongres
Kongres adalah pertemuan para wakil organisasi (politik, sosial, profesi) untuk mendiskusikan dan mengambil keputusan mengenai suatu masalah.
g.      Konferensi
Konferensi adalah pertemuan untuk berunding atau bertukar pendapat mengenai suatu masalah yang dihadapi bersama.
 
3. Unsur-unsur Diskusi
Setiap unsur-unsur di dalam diskusi memiliki tugas dan peranannya masing-masing. Agar diskusi bisa berjalan dengan lancar maka setiap unsur diskusi harus menjalankan tugas dan peranannya tersebut dengan baik. Tugas unsur-unsur diskusi adalah sebagai berikut :
 1. Tugas Moderator/Pemimpin Diskusi
 a.
 Menyiapkan pokok masalah yang akan dibicarakan
 b.
 Membuka diskusi dan menjelaskan topik diskusi
 c.
 Memperkenalkan komponen diskusi terutama pembicara jika ada   unsure pembicara/penyaji
 d.
 Membuat diskusi menjadi hidup atau dinamis
 e.
 Mengatur proses penyampaian gagasan atau tanya jawab
 f.
 Menyimpulkan diskusi dan membacakan simpulan diskusi
 g.
 Menutup diskusi
 
 2. Tugas Pembicara
 a.
 Menyiapkan materi diskusi sesuai topik yang akan dibahas
 b.
 Menyajikan pembahasan materi atau menyampaikan gagasangagasan serta pandangan yang berkaitan dengan topik diskusi
 c.
 Menjawab pertanyaan secara objektif dan argumentatif
 d.
 Menjaga agar pertanyaan tetap pada konteks pembicaraan
 
 3. Tugas dan Peranan Notulis
 a.
 Mencatat topik permasalahan
 b.
 Waktu dan tempat diskusi berlangsung
 c.
 Mencatat jumlah peserta
 d.
 Mencatat segala proses yang langsung dalam diskusi
 e.
 Menuliskan kesimpulan atau hasil diskusi
 f.
 Membuat laporan hasil diskusi
 g.
 Mendokumentasikan catatan tentang diskusi yang telah dilakukan
 
 4. Peranan atau Tugas Peserta Diskusi
 a.
 Mengikuti tata tertib dan aturan dalam diskusi
 b.
 Mempelajari topik/permasalahan diskusi
 c.
 Mengajukan pertanyaan, pendapat/sanggahan, atau usulan
 d.
 Menunjukkan solidaritas dan partisipasi
 e.
 Bersikap santun dan tidak emosional
 f.
 Memusatkan perhatian
 g.
 Turut serta menjaga kelancaran dan kenyamanan diskusi
 

5. Pengamat (tugas dan peran pengamat penyeimbang dalam diskusi)

Leave a comment »

Bahasa Gaul dan Pengaruhnya pada Keberlangsungan Bahasa Indonesia

Bahasa Gaul dan Pengaruhnya pada Keberlangsungan Bahasa Indonesia

OPINI (KOMPAS) | 30 October 2012 | 10:43

Di Indonesia, perkembangan bahasa terjadi dengan cukup cepat. Mengingat Indonesia memiliki lebih dari 700 bahasa daerah serta bahasa persatuan yang kesemuanya mengalami berbagai dinamika dan strateginya masing-masing dalam menghadapi terjangan bahasa asing maupun bentuk perkembangan bahasa lainnya. Masyarakat bahasa, terutama yang berada di masyarakat perkotaan akan semakin mudah menerima berbagai unsur yang masuk dalam mempengaruhi perkembangan bahasa. Pada masyarakat bahasa, terdapat sikap bahasa yang dimiliki oleh masyarakat bahasa dalam menyikapi kebahasaan mereka.

Menurut Anderson, sikap bahasa adalah tata keyakinan atau kognisi yang relatif berjangka panjang, sebagian mengenal bahasa, mengenai objek bahasa, yang memberikan kecendrungan kepada seseorang untuk bereaksi dengan cara tertentu yang disenanginya.Sikap bahasa itu bisa positif jika dinilai disukai atau bisa negatif jika tidak disukai. Sikap bahasa inilah yang digunakan masyarakat dalam menyikapi berbagai fenomena kebahasaan yang dewasa ini begitu banyak terjadi di masyarakat Indonesia.

Fenomena kebahasaan yang kini begitu booming terjadi adalah maraknya penggunaan kata-kata gaul oleh remaja Indonesia, khususnya remaja perkotaan di kehidupan sehari-harinya. Adapun penggunaan bahasa gaul yang saat ini marak digunakan oleh remaja, baik yang masih duduk di bangku sekolah atau bahkan yang tidak mengenyam pendidikan adalah bahasa-bahasa gaul yang sejatinya diperkenalkan oleh media massa elektronik seperti iklan di televisi, sinetron khusus remaja, atau bahkan bahasa yang digunakan oleh selebriti di infotainment. Kata-kata yang merujuk pada bahasa gaul yang booming kini seperti ciyus ‘serius’, miapah ‘demi apa’, enelan ‘beneran’ dan masih banyak lagi. Sepintas, kata-kata seperti itu terkesan lumrah terdengar sehari-hari. Penggunaannya marak digunakan oleh berbagai kalangan khususnya para remaja. Banyak yang menganggap jika penggunaan kata-kata terebut dianggap wajar dan lucu atau bahkan mencirikan identitas dari sekelompok masyarakat bahasa tertentu.

Penggunaan kata-kata tersebut pada masa kini tak lagi diucapkan pada kelompok tutur sebaya, namun terkadang remaja saat ini dengan tidak sadar ataupun tidak sengaja melakukan tindak tutur dengan menggunakan bahasa tersebut kepada orang yang lebih tua. Unsur-unsur atau pihak-pihak yang terlibat dalam tindak tutur itu sama sekali tidak dihiraukan dalam tindak bahasanya. Hal ini amat mengkhawatirkan. Hanya dari kesalahan penggunaan bahasa, bisa jadi menimbulkan banyak kesalahan persepsi yang menyebabkan berbagai gesekan yang timbul dalam masyarakat. Hal inilah yang menimbulkan masyarakat bahasa cenderung bersikap negatif atas penggunaan kata-kata gaul tersebut. Tidak hanya itu, penggunaan kata-kata tersebut cukup mengkhawatirkan bagi masyarakat Indonesia. Mengingat pengaplikasian bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan belum terkondisikan dengan cukup baik. Penggunaan bahasa Indonesia masih harus diperhatikan lebih lanjut karena posisinya yang juga bersaing dengan penggunaan bahasa daerah maupun bahasa asing yang masuk di wilayah Indonesia.

Kata-kata gaul tersebut dianggap mampu mengganggu stabilitas penggunaan bahasa Indonesia oleh para remaja. Remaja yang merupakan agen pembawa keberlangsungan bahasa Indonesia harus berjuang lebih keras dalam upaya mempertahankan bahasa persatuannya dari berbagai pengaruh yang cenderung negatif tersebut. Oleh karena itu, remaja Indonesia diharapkan mampu memberikan usaha terbaiknya dalam mempertahankan keberlangsungan bahasa Indonesia yang baik tanpa menghilangkan identitas kebahasaan sehingga remaja Indonesia tidak mudah terpapar oleh pengaruh-pengaruh negatif dalam hal kebahasaan tersebut.

 

Erin Nuzulia Istiqomah

Mahasiswi Program studi Sastra Indonesia

Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya

Universitas Indonesia

 

 

Bahasa Gaul vs Bahasa Indonesia

Senin, 05 November 2012 14:00:27

Oleh: Susanto

Bahasa adalah suatu isyarat yang digunakan untuk berkomunikasi. Bahasa memang sangat beragam. Misalnya, di wilayah satu wilayah yang lain pasti memilki bahasa yang berbeda.  Negara satu dengan negara yang lain juga pasti memilki bahasa yang berbeda. Di Indonesia ditemukan berbagai ragam bahasa, ada bahasa Jawa, bahasa Sunda, Madura, Betawi dan masih banyak lagi, hingga disetiap kalanganpun memilki bahasa yang berbeda. Bahkan kini di kalangan remaja pun  menggunakan bahasa sebagai bahasa mereka sehari-hari, yang biasa disebut bahasa gaul. Dalam konteks ini, ada sejumlah permasalahan mendasar. Bagaimana kondisi bahasa Indonesia? Sangat relevankah untuk selalu menggunakan bahasa Indonesia di tengah maraknya bahasa gaul? Lantas bagaimana idealnya? Siapa sebenarnya pemilik bahasa Indonesia sebenarnya? Dan apakah bahasa gaul itu?

Bahasa Gaul

Bahasa remaja  yang digunakan oleh anak remaja pada zaman sekarang ini, sebenarnya muncul dari kreativitas mereka mengolah kata baku di dalam bahasa Indonesia menjadi kata yang tidak baku. Bahasa gaul dapat timbul dari iklan di televisi, lirik lagu maupun ragam sms. Bahasa lagu dan lirik lagu biasanya sangat mempunyai peranan penting dalam bagi remaja. Misalnya kata capek deh, sering digunakan remaja dalam kesehariannya bahkan anak-anak kecilpun ikut menirukan kata-kata tersebut. Dalam lirik lagu, misalnya pada kata  ”mara-mara mara-mara itu nggak perlu udahan marahnya cepetan dong cepetan”. Pada novel-novel remaja juga ditemukan bahasa gaul tersebut. Misalnya, novel berjudul ”Cintapuccino” dari judulnya saja sudah menggunakan bahasa gaul, apalagi isinya.  Terus sms, karena ingin cepat dibalas-menghemat pulsa juga menyingkat waktu, dia menulis ”maksi yuk”,  “lez gpl”. Nah kata-kata tersebut memang sebenarnya kata-kata dalam sms, tapi “maksi”(yang berarti terima kasih), dan “gpl” (gak pake lama: Tidak Terlalu Lama) sering sekali dilontarkan oleh anak-anak muda dalam berkomunikasi sehari-sehari.

Anak-anak ABG pada era ini menggunakan bahasa gaul dalam kehidupannya sehari-hari, karena mereka merasa cocok dan nyaman dalam menggunakannya. Mereka lebih menemukan jati dirinya sendiri sebagai anak remaja. Dan apabila dianatara mereka tidak menggunakannya, mereka dianggap tidak gaul.  Dianggap tidak mengikuti perkembangan zaman. Tragisnya dianggap kuper. Dalam konteks demikian, mereka berlomba-lomba belajar bahasa gaul.

Siapa Pemilik “Sah” Bahasa Indonesia?

Nah, berarti bahasa gaul dapat melunturkan pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar? Jawabnya ya. Bagaimana mengatasinya. Pertama, perlu kepedulian kita semua. Remaja saat ini sangat suka berbicara menggunakan bahasa gaul, bahkan saat berbicara dengan guru dan orang yang lebih tua ataupun orang tua mereka. Sebaiknya saat di sekolah  guru yang mendengar perkataan itu segera membetulkan atau mengingatkannya. Kalau tidak cepat dibetulkan akan mengakibatkan kesalahan dalam berbahasa, karena meraka sudah terbiasa menggunakan bahasa gaul. Dalam hal ini orang tuapun mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan bahasa sang anak. Sebagai orang tua yang baik, apabila mendengar bahasa anak yang salah maka orang tua hendaknya menasihati. Seperti kita ketahui bahwa bahasa gaul adalah bahasa yang tidak baku.

Kedua, bahasa gaul harus disikapi sebagai perbendaharaan kosa kata. Sebanarnya bahasa gaul bukanlah hantu yang perlu ditakuti.  Bukanlah teroris yang harus diberantas, dan bukan pula hama yang perlu dibasmi. Akan tetapi  bahasa gaul dapat menjadi identitas bangsa Indonesia selain bahasa Indonesia baku. Namun alangkah baiknya sebagai bangsa
Indonesia mencintai bahasa Indonesia baku. Bahasa gaul dapat dikurangi penggunaannya dengan sering berkomunikasi dengan bahasa Indonesia baku. Nah dalam konteks ini, seorang guru merupakan sosok teladan bagi muridnya sehingga alangkah baiknya seorang guru ikut mendidik muridnya agar menggunakan bahasa baku.

Bahasa gaul sebenarnnya hadir dari kelompok masyarakat sendiri. Bahasa gaul merupakan keanekaragaman budaya Indonesia dibidang bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa gaul yang secukupnya dapat mencegah lunturnya pemakaian bahasa indonesia. Meski pembentukan bahasa gaul sama dengan bahasa Indonesia, tapi bahasa gaul sangat berperang dalam pembentukan bahasa remaja dikarenakan bahasa gaul yang sifatnya santai dan fleksibel. Tapi alangkah baiknya jika kita menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, sehingga bahasa Indonesia yang baik dan benar akan tetap digunakan bangsa Indonesia. Alasannya karena bahasa Indonesia adalah bahasa persatu yang penuh keragaman yang indah ini.

Kita dapat memulai menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dari kita sendiri. Apabila kita sudah menggunakan bahasa yang baik dan benar, maka secara tidak langsung orang yang berada di dekat kita akan tertular. Dengan kata lain, kita akan mendapat predikat “pemilik sah” bahasa Indonesia yang dikumandangkan dalam sumpah pemuda puluhan tahun yang lalu bila kita  selalu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Jadi “pemilik sah” Bahasa Indonesia adalah orang yang konsisten menggunakan bahasa yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari mulai hari ini, esok, dan masa datang. Bagaimana dengan Anda siapkah untuk menjadi pemilik bahasa Indonesia?

Penulis adalah Guru SMA Negeri 3 Bojonegoro,
email: langittanpabatas@gmail.com

 

 

Bahasa Gaul Perkaya Bahasa Indonesia

Kamis, 11 Oktober 2012, 16:15 WIB

 

 

Kamus Besar Bahasa Indonesia, ilustrasi

 

REPUBLIKA.CO.ID, MEDAN — Bahasa gaul yang dewasa ini sering digunakan generasi muda dalam pergaulan sehari-hari antara sesamanya dinilai justru akan memperkaya perbendahaan kosa kata Bahasa Indonesia, kata staf Kemendikbud, Yeyen Mariani M.Hum.

Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud di Medan, Kamis, mengatakan bahasa gaul adalah bahasa yang digunakan oleh kelompok-kelompok tertentu dengan tujuan ingin mencirikan identitas kelompok tersebut.“Namun yang perlu diperhatikan saat ini adalah bagimana dalam situasi formal kita tetap menggunakan Bahasa Indonesia yang baik sesuai dengan kaedah,“ katanya usai seminar „Bahasa dan Sastra Membangun Pendidikan Indonesia yang Berkarakter“.

Ia mengatakan, jika dilihat dari sisi kebahasaan, bahasa gaul tersebut memang bisa saja berkembang dengan sendirinya pada masing-masing kelompok tertentu, karena memang bahasa gaul tidak digunakan dalam dunia formal, seperti misalnya dalam dunia pendidikan,

Bisa saja, suatu saat beberapa kosa kata dalam bahasa gaul tersebut bisa menjadi Bahasa Indonesia jika memang belum ada padanannya dalam Bahasa Indonesia. Dengan kata lain bahasa gaul juga bisa memperkaya perbendaharaan Bahasa Indonesia. „Yang penting saat ini adalah bagimana kita bisa bersama-sama menjaga dan mempergunakan Bahasa Indonesia dengan baik. Dengan demikian Bahasa Indonesia tetap terjaga kelestariannya,“ katanya.

Redaktur: Yudha Manggala P Putra

Sumber: Antara

Bahasa Gaul Vs Bahasa Indonesia

OPINI | 25 September 2012 | 07:56

“Broe”, “Sist”, “Mas Broe”, “Mbak Broe”, “Cuy”, “Cin”  dan lain sebagainya.  Kalian tentunya sudah sangat sering mendengar atau bahkan menggunakan kata sapaan demikian. Ayo ngaku, ya kan ??? J terutama bagi kalian yang beranjak remaja. Dan sering menggunakan jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter sehari-harinya.

Wah, kalau dilihat-lihat dan sedikit penelaahan, kata-kata sapaan demikian,  tidak ada dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Entah itu terbitan sekarang, apalagi terbitan tahun-tahun sebelumnya. Karena, kata-kata sapaan tersebut, baru muncul beberapa tahun terakhir. Dan diserap dari  bahasa asing pula.

Entah apa  yang menjadikan kata-kata demikian semakin populer saja. Padahal kita sebagai bangsa Indonesia, apalagi sebagai anak muda. Dimana nantinya, Indonesia berada di tangan kita. Seharusnya lebih menjunjung tinggi bahasa persatuan, yakni Bahasa Indonesia. Yang sebagaimana diikrarkan pada Sumpah Pemuda pada tanggal  28 Oktober 1928 (KAMI PUTRA DAN PUTRI INDONESIA, MENJUNJUNG TINGGI BAHASA PERSATUAN, BAHASA INDONESIA).

Ironinya, remaja saat ini lebih senang menggunakan bahasa-bahasa gaul   daripada bahasa indonesia itu sendiri. Dalam percakapan sehari-haripun, mereka sudah terbiasa dengan bahasa gaul tersebut. Selain itu, yang menjadi momok dalam tiap-tiap tahunnya pada saat Ujian Nasional adalah nilai Bahasa Indonesia yang lebih rendah daripada nilai Bahasa Inggris. Bahkan ada yang tidak lulus ujian karena nilai Bahasa  Indonesianya tidak memenuhi standar kelulusan. Wah, kalau sudah demikian, siapa yang patut disalahkan ?

Untuk itu, mari kita bersama-sama menjunjung tinggi Bahasa Indonesia. Karena, dengan adanya bahasa persatuan kita, yakni Bahasa Indonesia. Kita dapat secara gamblang berkomunikasi dengan bangsa kita sendiri. Apalagi, Indonesia merupakan negara yang memiliki suku terbanyak, yang tentunya berbagai macam bahasa pula. Dan itu sangat mempengaruhi  proses komunikasi kita.

 

 

Bahasa Gaul Anak Muda versus Bahasa Indonesia Baku

 

Oleh : M. Aljabbaar Supriyanto

Siapa sih yang tidak kenal dengan kata cemungut? Apalagi buat kalangan anak muda, dari kalangan sekolah menengah pertama hingga kalangan perkuliahan. Selain dari banyaknya yang menggunakan kata tersebut dan kata lainnya yang dianggap sebagai kata gaul, memang seperti kata cemungut terlihat lebih memotivasi bagi orang yang mendengarkannya, daripada ketika hanya mendengar ucapan semangat dari orang lain.

Masih banyak lagi kata lainnya yang populer saat ini selain cemungut, misalnya ciuzz yang arti sebenarnya adalah serius, lebay yang artinya berlebihan, ea yang artinya ya dan kata-kata lainnya. Ketika kita menanyakan mengapa kata-kata tersebut muncul, pasti kita berpikir karena adanya orang-orang yang biasa disebut orang-orang lebay. Mereka menggunakan kata-kata tersebut agar terlihat lebih keren, apalagi bagi kalangan anak muda yang selalu ingin terlihat sebagai orang yang keren di mata orang lain. Tak dapat dipungkiri lagi kalau kata-kata tersebut telah hampir melenyapkan kata-kata aslinya dalam komunikasi sehari-hari. Kata-kata Bahasa Indonesia baku yang telah memiliki kata-kata gaulnya cenderung hanya dipakai dalam situasi formal saja. Kata-kata gaul ini pun dengan cepat menyebar, tidak hanya di kota-kota besar saja seperti kota-kota di Jakarta, kota-kota di Provinsi Jawa Barat, dan kota-kota lainnya, bahkan menyebar hingga di kota-kota kecil di hampir seluruh Indonesia. Di Kota Bandung saja, 90% lebih, pasti mengerti bahkan menggunakan kata-kata yang dianggap gaul tersebut untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari.

Jika kita kembali lagi berpikir ke asas dasar komunikasi dan tujuan berkomunikasi yaitu agar orang yang menyampaikan sesuatu bisa tersampaikan kepada orang yang dituju, maka kata-kata tersebut tidaklah dilarang, dan mungkin lebih membantu dalam berkomunikasi. Tapi apakah kata-kata tersebut menyalahi kaidah berbahasa Indonesia? Sementara kita berada di Negara Indonesia yang bahasa formalnya adalah Bahasa Indonesia.

Singkat saja kita berpikir, di Indonesia banyak terdapat bahasa daerah di daerahnya masing-masing, dan bahasa tersebut tetap digunakan hingga sekarang. Jadi, tentu saja bahasa gaul anak muda yang telah menyebar dan lebih sering digunakan sekarang tidaklah masalah dan melanggar aturan di Indonesia, tetapi sebagai bangsa yang baik kita tetap harus mengerti dan mempelajari Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bukan tidak mungkin kata-kata tersebut bisa dimasukkan ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia karena orang-orang lebih banyak menggunakannya dan banyak yang mengerti. Jadi untuk kita semua, tetap menjalankan hidup saja dan tetap berkomunikasi dengan bahasa apapun termasuk bahasa gaul yang biasa digunakan, dan tetap harus mempertimbangkan tujuan berkomunikasi. Cemungut ea!

http://aljabarlogika.blogspot.com/2012/11/bahasa-gaul-anak-muda-versus-bahasa.html#ixzz2IQWOywtJ

 

 

Linda Sari Wulandari

Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran

Penggunaan Bahasa Gaul dalam Jejaring Sosial

OPINI | 05 September 2012 | 10:07

Bahasa merupakan instrumen terpenting dalam kehidupan manusia. Manusia tidak dapat hidup tanpa menggunakan bahasa, baik lisan maupun tulisan. Bahasa adalah simbol-simbol yang digunakan untuk menyatakan gagasan, ide, dan perasaan orang kepada orang lain. Mulai dari bangun tidur, makan, mandi, sampai tidur lagi, atau melakukan berbagai aktivitas manusia lainnya, tidak luput dari adanya penggunaan bahasa.

Bahasa memiliki berbagai variasi atau ragam bahasa. Hartman dan Stork (1972) membedakan variasi berdasarkan kriteria (a) latar belakang geografi dan sosial penutur, (b) medium yang digunakan, dan (c) pokok pembicaraan. Variasi atau ragam bahasa menyangkut semua masalah pribadi para penuturnya, seperti usia, pendidikan, seks, pekerjaan, tingkat kebangsawanan, keadaan sosial ekonomi, dan sebagainya. Berdasarkan usia, kita dapat melihat perbedaan variasi bahasa yang digunakan oleh anak-anak, para remaja, orang dewasa, dan orang yang tergolong lanjut usia.

Variasi atau ragam bahasa berdasarkan penutur dan penggunaannya berkenaan dengan status, golongan, dan kelas penuturnya, biasanya disebut akrolek, basilek, vulgar, slang, kolokial, jargon, argot, dan ken. Ada juga yang menambah dengan istilah prokem.

Bahasa gaul atau bahasa prokem adalah ragam bahasa Indonesia nonstandar yang lazim digunakan di Jakarta pada tahun 1970-an yang kemudian digantikan oleh ragam yang disebut sebagai bahasa gaul.

Pada masa sekarang, bahasa gaul banyak digunakan oleh kaula muda, meski kaula tua pun ada juga yang menggunakannya. Bahasa ini bersifat temporal dan rahasia, maka timbul kesan bahwa bahasa ini adalah bahasa rahasianya para pencoleng atau penjahat, padahal sebenarnya tidak demikian. Faktor kerahasiaan ini menyebabkan kosakata yang digunakan dalam bahasa gaul sering kali berubah. Para remaja menggunakan bahasa gaul ini dalam ragam lisan dan ragam tulis, atau juga dalam ragam berbahasa dengan menggunakan media tertentu, misalnya, berkomunikasi dalam jejaring sosial.

Jejaring sosial merupakan media yang banyak digunakan para penutur bahasa untuk saling berkomunikasi jarak jauh melalui internet. Jejaring sosial yang banyak diminati oleh masyarakat, yaitu facebook dan twitter. Dalam facebook dan twitter, para pengguna dapat menuliskan apa yang sedang dipikirkannya dalam “status” dan dapat saling memberikan komentar pada “kiriman” dan “status” rekan-rekan mereka. Selain itu, mereka juga dapat saling berdialog dan memberi komentar satu sama lain.

Dalam jejaring sosial, para penutur bahasa gaul saling berdialog melalui ragam tulis. Dalam berbahasa tulis kita harus lebih menaruh perhatian agar kalimat-kalimat yang kita susun bisa dapat dipahami pembaca dengan baik. Oleh karena itu, para penutur bahasa gaul sering menciptakan kosakata baru yang mereka gunakan untuk berkomunikasi dalam jejaring sosial tersebut. Penggunaan kosakata bahasa gaul yang ada dalam jejaring sosial terus berkembang dan berganti mengikuti tren. Para penutur biasanya mengikuti bahasa gaul yang digunakan oleh para artis ibukota. Misalnya, adanya kata “Sesuatu” yang merupakan judul lagu yang dinyanyikan Syahrini. Adanya kalimat, “Terus gue harus bilang, wow, gitu?” Dengan jawaban, “Emang iya? Terus masalah buat lo?” yang sering dikatakan oleh Soimah, penyanyi solo dan presenter acara televisi.

Para remaja menganggap bahasa gaul dialek Jakarta lebih bergengsi dibandingkan dengan bahasa daerah. Kota Jakarta adalah kota metropolitan. Sehingga, para remaja di daerah dan yang pernah ke Jakarta merasa bangga bisa berbicara dalam dialek Jakarta itu. Selain itu, para remaja juga memerlukan bahasa tersendiri dalam mengungkapkan ekspresi diri. Sarana komunikasi diperlukan oleh kalangan remaja untuk menyampaikan hal-hal yang dianggap tertutup bagi kelompok usia lain atau agar pihak lain tidak dapat mengetahui apa yang sedang dibicarakannya. Masa remaja memiliki karakteristik antara lain petualangan, pengelompokan, dan kenakalan. Ciri ini tercermin juga dalam bahasa mereka. Keinginan untuk membuat kelompok eksklusif menyebabkan mereka menciptakan bahasa rahasia (Sumarsana dan Partana, 2002:150).

Walaupun istilah alay ini sudah dikenal di masyarakat luas dengan arti “orang norak”, tetapi hingga saat ini bahasa alay tersebut masih banyak digunakan oleh para remaja untuk menulis dalam facebook atau twitter. Beberapa kata yang sering dijumpai dalam “status” para pengguna jejaring sosial, misalnya, kata gue. Kini, untuk menyatakan kata saya para penutur bahasa gaul juga menggunakan kata saiia, aq, q, ak, gw, gua, w, akoh, aqoh, aqu, dan ane. Kemudian, kata Lo atau Lu sama seperti kata gue. Kini, untuk menyatakan kamu penutur bahasa gaul juga menggunakan lw, elu, elo, dan ente.

Selain kosakata di atas, ditemukan juga beberapa kosakata dari bahasa Indonesia yang berubah struktur penulisannya menjadi bahasa gaul yang sering dipakai dalam jejaring sosial, sebagai berikut:

teman lelaki : jek, lur, boy, bang, cuy,bray, gan, brow, guys

teman wanita :sis, sist

kok : kq

kayaknya : keknya

calling : koling-koling artinya berhubungan, menghubungi.

si : c

-nya : -x, misalnya, “putihnya” menjadi “putihx”, _a, misalnya “merahnya” menjadi “merah_a”

download : donlot ‘unduh’

iya : ea, yap, y, yoman, yaw, yow

siapa : cfa, cp

nih : nich

tuh : tuch

kau : kw

tak : ta

tapi : v, phy

nggak : gx

karena : cz

menit : mniy

lagi :aggy

najis : najong, kini dapat diartikan sebagai ungkapan untuk sesuatu yang menyebalkan

bodoh : dodol, bedon

pingin tahu urusan orang : kepo

utang : kasbon

tidak tahu adat: songong (tidak sopan) menjadi songodh, keos

tolong : plis, berasal dari kata please, untuk menyatakan permohonan

banget : beud, betts

kakak :qaqa

semangat : cemungudh

sindiran : cengcengan

asik : hazeg, asoy geboy

ketawa : ngakak, cekikikan

kepalamu :palelo, ungkapan rasa kesal

geregetan : remas-remas

brosur : kuntel-kuntel

pipi tembam : culikable

jijik : hoeks, jijay

sudah : syudah

mabeng : makan bareng

monyet : tenyom

merayu : gombal

suka : kesemsem

lumayan : mayan

dia : doi

daftar : ceklis nih

tidah tahu : auk, ungkapan tidak acuh

hadir : nimbul

gila : gilak

pergi : cao, caw, gaspol

sendiri : sendewe

hai :hy, ai, oi, huy

ketiak :tokay

kerja sama : kongkow, dapat diartikan juga “bersama”

payudara : toket

tidur siang : boci, hasil pemendekan dari “bobo ciang”

cocok : cuco

kacau : kacu

salah : kecele

lari : ngacir

santai : woles atau selow

datang : merapat

doakan : dokan

makanan ringan: kriuk

astaga :astagah, astajiim

memperbaharui: apdet, berasal dari kata update

sok tahu : sotoy

alasan : alibi

lucu : unyu, ciemuth

kampret : kampreto, kampretos

tidak : kadit

tidur :bobo, obo

siang : sianx, ciank, cianx

mau : mo, mu

Penggunaan angka dan huruf seperti dalam status Febby Meytriani C’cukaGreenthea, “ngacun9 di per4.n,” She Ayoe Synk Ayahndtbundaphollepell berkomentar, “5zaa,,,???” Kata ngacung ditulis ngacun9, perempatan menjadi per4.n, dan kata masa ditulis 5zaa. Contoh lain penulisan alay dalam status facebook :

“…G46 PnY4 ML4m mgu G46 P4,, 6aG pnY4 Pcr G46 Pp4,,, 45Al pNy4 du11TT B4NY4kkk…. H4Rta,, T4ht4,, c1nta,,, h4ny4 C1nT4 l4hH yg Gag q m1L1ki… h4H4h4,,,45sy3ekkk…”

Adapun, pengunaan kosakata bahasa alay yang mengubah bahasa Indonesia menjadi bahasa yang seolah dikatakan oleh orang cadel, misalnya, kata sabar menjadi cabal, kata kasihan menjadi ciyan, kata terima kasih menjadi maacih, kata serius menjadi ciyus, kata enak menjadi enyak, kata sungguh menjadi cungguh, kata bisa menjadi bica, dan sebagainya.

Selain itu, adapun simbol tertentu dalam bahasa gaul, misalnya, simbol (y) menyatakan suka, @ untuk menunjukkan alamat atau tertuju kepada, dan # menyatakan apa yang dirasakan, misalnya, “gubrak #gulinggulingmasukkolongkasur,” penulisan setelah kata gubrak yang menyatakan suatu perasaan sedikit kekecewaan dan kaget.

Selain itu, adapun istilah-istilah terbaru dalam bahasa gaul yang sedang tren digunakan dalam jejaring sosial, misalnya:

Destry Silviany Noe Pllinpllan menulis status facebook, “Cenat-cenut kepala q (˘̩̩̩~˘̩̩̩ƪ).” Kata “Cenat-cenut” menjadi judul lagu yang dipopulerkan oleh boyband Smash. Cenat-cenut bisa berarti hati yang berdebar, dan bisa berarti sedang merasakan sakit.

Gusty Pratama menulis komentar pada kiriman temannya, “Biasa Um Bro Tradisi Tahunan,” Triyono Saefulloh Luis mengomentarinya, “Selalu Begicu….. Sabar Ya Um……. Sing Ikhlas.” Kata um berarti om atau paman, tahun 2011 lalu terdapat sebutan “Mas bro” yang dipopulerkan oleh Ramzi dalam film “Pesantren dan Rock n’ Roll”, tetapi sekarang dapat menjadi “Om bro”, “Mba bro, dan “Bu bro”. Kata bro berasal dari brother yang menyatakan saudara lelaki, sehingga kata bro kini sering digunakan untuk menunjukan rasa persahabatan dan persaudara antarteman.

Kosakata bahasa gaul juga ada yang berasal dari pemendekan kata, atau berupa singkatan atau akronim, misalnya, kata “susis” yang berarti “suami takut istri” yang dipopulerkan oleh komedian, Sule. Kata “piktor” akronim dari “pikiran kotor” sebagai sebutan untuk orang yang suka berpikir vulgar. Kata “semangka” berasal dari hasil pemendekan “semangat kakak” ungkapan untuk memberi semangat kepada teman atau sahabat. Kata “pewe” hasil pemendekan “posisi wenak”, kata “agata” pemendakan dari “anak gaul tasik”, kata “kuaci” pemendekan dari “kuacian”, kata “kuacian” berasal dari kata kasihan yang biasanya dikatakan “kasihan deh lo!” Kata “markibal” pemendekan dari “mari kita balap” untuk menantang teman bermain game atau mengajak duel.

Terdapat ungkapan perasaan dalam bahasa gaul yang biasanya berada di awal atau akhir kalimat, misalnya, “hoeks” rasa jijik, “hiks” rasa sedih, “arrgh” rasa kesal, “hoff” atau “huft” rasa letih, “yiihaa” rasa senang, “heyho” kata sapaan seperti “halo”, “hmm” sedang berpikir, dan sebagainya.

Penggunaan bahasa gaul dalam jejaring sosial semakin marak digunakan oleh para remaja, apalagi pada saat ini sedang musim-musimnya penggunaan ponsel Blackberry yang menyuguhkan aplikasi beraneka ragam untuk membuat tulisan yang bermacam-macam bentuknya. Selain itu, penyedia layanan jaringan seluler pun menawarkan aplikasi untuk menulis bahasa gaul.

Pada kenyataannya bahasa Indonesia memang sudah didapatkan dari sejak kita lahir, tetapi hingga kini kita masih tetap saja merasa kesulitan dalam berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Misalnya, walaupun kelihatannya mudah, tetapi dalam ujian nasional bahasa Indonesia jarang ada siswa yang mendapatkan nilai seratus. Selain itu, ketika kita memasuki dunia pekuliahan lagi-lagi dipertemukan dengan mata kuliah bahasa Indonesia, hal itu tentu saja bukan tanpa alasan. Kebutuhan akan berbahasa Indonesia yang baik dan benar itu sangat diperlukan bagi warga negara Indonesia. Karena bahasa Indonesia adalah bahasa nasional dan bahasa negara Republik Indonesia. Sebagai warga negara Indonesia sudah seharusnya kita mempertahankan dan melestarikan bahasa Indonesia karena bahasa adalah identitas bangsa.

Dengan adanya bahasa gaul atau bahasa alay di kalangan remaja, mungkin menjadi tantangan tersendiri bagi para pengajar bahasa Indonesia. Tetapi, hal tersebut tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Penggunaan bahasa gaul tersebut tidak menjadi ancaman yang begitu serius bagi penggunaan bahasa Indonesia. Karena bahasa gaul akan tumbuh bersamaan dengan perkembangan usia remaja. Hal tersebut dianggap wajar karena sesuai dengan tuntgutan perkembangan pribadi usia remaja, yang sering memiliki keinginan untuk hidup dengan kelompoknya dengan menciptakan bahasa rahasia dalam kelompoknya tersebut. Sehingga bahasa gaul yang digunakan dalam suatu kelompok remaja sering kali hanya dapat dimengerti oleh anggota kelompok mereka sendiri. Tetapi, ketika mereka berada di luar kelompoknya mereka akan kembali menggunakan bahasa lain yang berlaku secara umum di lingkungan tempat di mana mereka berada. Jadi, penggunaan bahasa gaul itu tidak mengganggu pada penggunaan bahasa Indonesia. Haruslah ada kesadaran pada diri kita selaku pengguna bahasa Indonesia untuk dapat menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan kaidah-kaidah yang sudah ditetapkan dalam EYD.

Kita sebagai pemilik bahasa Indonesia sudah seharusnya merasa bangga ketika kita dapat berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Tetapi, pada kenyataannya di kalangan masyarakat umum, seringkali ditemukan adanya penggunaan bahasa Indonesia yang sering mengalami campur kode dengan bahasa asing, seperti bahasa Inggris. Padahal, mereka yang mencampur kode penggunaan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris tersebut belum memiliki kemahiran berbahasa Inggris yang lebih tinggi dibandingkan dengan kemahiran berbahasa Indonesianya. Mereka bersikap demikian karena menganggap ketika mereka dapat menyelipkan kata-kata berbahasa Inggris ke dalam kalimat bahasa Indonesia, mereka akan merasa bangga.

Oleh karena itu, mulai dari diri kita cintailah bahasa Indonesia. Gunakanlah bahasa Indonesia dengan penuh kebanggaan. Karena bahasa adalah identitas bangsa dan dari bahasa tersebut akan tercermin jati diri bangsa. Mari kita buktikan bahwa adanya penggunaan bahasa gaul atau bahasa asing tersebut tidak menjadi ancaman bagi penggunaan bahasa Indonesia. Karena jika kita dapat menggunakan bahasa-bahasa tersebut secara profesional, maka penggunaan bahasa gaul, bahasa asing, ataupun bahasa daerah akan tumbuh dan berkembang sendiri sesuai dengan lingkungan, fungsi, dan situasinya masing-masing.

 

Bahasa 4lay, Banci, Prokem, Bahasa Indonesia dan Kita

OPINI | 07 September 2012 | 04:18

Saya bukan ahli bahasa. Pelajaran Bahasa Indonesia dulu juga termasuk pelajaran paling membosankan yang saya rasakan. Teks struktur, sintaksis dsb dsb yang diajarkan di sekolah sepertinya saya rasa, jauh panggang dari api. Artinya tidak membumi. Hampir tak ada orang Indonesia yang normal yang mungkin berbicara dengan EYD. Mungkin kondisinya sama dengan para bule yang juga ngomong suka kurang kurang grammer.

Bahasa Indonesia, kalau didefinisikan, adalah Bahasa Melayu + Unsur serapan. Unsur serapan ini bisa datang dari bahasa daerah atau bahasa asing.  Jadi, bisa saja seiring perkembangan jaman dan berlalunya waktu, kata kata yang sering dipakai di masyarakat, tak peduli bahasa Inggris, Belanda, Cina, Batak, Jawa, Bali, Ambon atau Aceh, akhirnya melebur memperkaya Bahasa Indonesia. Semua bahasa di dunia mengalami hal ini.

Bila di jaman klasik, mungkin yang terserap paling banyak adalah Bahasa Sansekerta, kemudian di masa kebangkitan nasional banyak diambil istilah istilah Belanda. Lantas melewati fase singkat menyerap istilah istilah Jepang. Di jaman modern imbas dari globalisasi, bahasa Inggris yang banyak diambil.

Sekarang, mau tidak mau harus mengerutkan dahi melihat bahasa bahasa Indonesia baru, katakan atau istilahkan saja dengan Bahasa 4lay (Dibaca Alay).

Periode Soekarno jadi pemimpin RI, mungkin sudah terjadi fenomena masuknya istilah istilah baru yang akhirnya juga bisa diterima. Disaat itu sastra Indonesia sedang dalam fase angkatan 45 ke bahasa Koes Plus. Yah, Koes Plus. Lirik-lirik lagu mereka mencerminkan bahasa Indonesia bagaimana yang sedang banyak dipakai di Indonesia pada saat itu.

Sampai, mungkin ada kaitan politik, saya tidak tahu jelasnya. Koes Plus dijebloskan ke penjara, dan musiknya (yah termasuk lirik) dicap sebagai musik Ngak Ngik Ngok.

Lalu dimasa saya muda dulu. Mungkin pelopornya HILMAN. Dengan Lupus, berhasil sekali mempopulerkan bahasa Prokem menjadi bahasa gaul di seluruh Indonesia. Mau tak mau, saya ingat masa itu, dimana mana, tidak di Tempo atau Kompas, ulasan bahasa banyak menganggap bahasa Prokem sebagai tantangan serius bagi perkembangan bahasa Indonesia.

Lalu, ada lagi cabang cabangnya. Kali ini bahasa Banci. Yah, ini termasuk istilah Titi DJ (hati hati dijalan), sampe endang (enak….). Bahasa ini termasuk bahasa gaul katanya. Yah, seamcam bahasa komunitas terbatas. Para banci, gay dan lesbian di Indonesia mungkin. Kesannya lucu, agak agak norak dan kadang menjijikkan bagi yang tidak suka banci bancian. Sempat rame juga dipake sebagai iklan, Debby Shehertian sepertinya termasuk yang bertanggung jawab mempopulerkannya. Padahal dia cewek dan bukan banci. Kalau anda penasaran, sepertinya bisa menikmati riuh rendah bahasa banci ini bila anda punya sedikit waktu, masuk ke salon,  amati 2 banci yang sedang bergunjing yang kerja di salon tersebut. Asli bisa senyum sendiri.

Namun di perkembangan terakhir, bahasa banci ini sepertinya juga sudah menjadi bahasa gaul dimana-mana.  Sudah menjadi bahasa trend anak muda.  Bahkan di sebuah iklan layanan masyarakat di sebuah radio swasta beken nasional (Prambors) tentang bahaya terorisme, bahasa banci ini sempat dipakai dalam menggambarkan ibu yang ingin terlihat gaul dan akrab dengan anaknya.

Baik bahasa prokem dan bahasa banci, keduanya adalah bahasa percakapan. Artinya, belum ketemu formula yang pas untuk menuliskannya. Misal, tidak = gak = ga‘ = ngga = kaga‘ = kagak. Mana yang bener? Saya sendiri tidak tahu. Tapi kalu diucapkan, sewaktu dalam pembiacaraan, pasti ngerti artinya. Demikian juga dengan ’saya’ = gw = gue = gua. Nulisnya belum baku, tapi artinya jelas dapat. Apalagi pas ngomong, kayanya serempak bunyinya sama.

Jadi, istilah istilah yang dulu termasuk prokem ini, sekarang udah wajar wajar sekali dalam bahasa Indonesia. Agaknya tinggal tunggu waktu saja kapan itu dijadikan baku. Atau mungkin sudah?

Tapi, perkembangan paling mutakhir adalah bahasa 4lay (baca alay).

Bahasa 4lay juga bahasa gaul. Hanya, berbeda dengan 2 jenis bahasa gaul sebelumnya, bahasa Banci dan Prokem, bahasa 4lay malah bermasalah di penulisan.

contoh:
annyouungghaceooooo , chintaa dciinii sangaddss cintaaxxkalii maa guujunnnpiooooo .. inginndkalii bertemuuu gujunnpioku saiaaanggksss .. boeat semua pencintaaa gujhunpioo , nontoonn yaaa di indoos*arrr jam 6 !! hlii nii epichod telakhiirrr , huxhiksss .. akann sgaddsss merindukann guuw-jhunn-piooooo …… saranggheeeiiooooo gu jun piooo oppaaaaa XDXDXDXD

Kalau mau diselidiki. Mula mula agaknya penulisan seperti ini berasal tari trend SMS (Pesan pendek). SMS yang pendek pendek, memaksa penggunannya untuk menyingkat berbagai kata dengan seenak udelnya. Hal ini mungkin dipicu dari tarif komunikasi via selular dulu yang masih relatif sangat mahal, kemudian keterbatasan huruf di keypad (papan tombol) pada telepon genggam yang belum qwerty.

Nah, adalah para ABG (remaja belia) yang awalnya adalah untuk menyingkat, biar pesan sms menjadi padat, gampang dan enak dalam komunikasi. Juga ada kemungkinan menulis gaya 4lay ini dimaksudkan agar apa yang dituliskan bisa menjadi semacam sandi yang tidak bisa dimengerti orang tua atau guru.  Kemungkinan ada hal-hal yang membuat mereka malu bila orang tua dan guru mengerti apa isi sms mereka ini.

Itu hanya kemungkinan-kemungkinan yang ada.  Tapi yang jelas, bahasa 4lay ini menjadi sangat populer di kalangan remaja.  Dan celakanya, mulai diikuti oleh orang-orang yang lebih dewasa.  Bahkan saya pernah menemukan di laporan keuangan di sebuah perusahaan di Surabaya yang laporan keuangannya ditulis dengan bahasa 4lay ini.

 

Terus, apakah ke depannya bahasa 4lay ini bisa disamakan dengan fenomena bahasa Prokem dan bahasa Banci yang sedikit banyak sudah diterima masyarakat dan umumnya orang Indonesia.

Satu perbedaan dasar mengapa bahasa 4lay tidak akan bisa menjadi bagian dari bahasa Indonesia (masuk ke unsur serapan) adalah, bahasa 4lay bukan bahasa percakapan. Artinya, mau bagaimana pun sulitnya ditulis, cara pengucapannya sama saja. Tidak ada makna makna baru.

Bahasa Alay tak lebih dari semacam booming grafiti jaman dulu. Kali ini grafiti-nya ke dalam bentuk bahasa Indonesia.

Bila bahasa Alay dijadikan bahasa Indonesia. Bakal terjadi perombakan maha dasyat pada abjab latin, sintaksis, struktur dan ejaan bahasa Indonesia yang sudah mapan. Jadi, saya kira sangat tidak mungkin bahasa 4lay, walau sebesar apapun perkembangannya bisa dijadikan bagian bahasa Indonesia.

Bahasa Alay, mungkin 5 tahun, 10 tahun lagi  bakal menghilang dari Republik. Bahasa ini tidak mempunyai dasar yang kuat. Ini hanya trend, yang bagi pelakunya, saya kira kelak ketika mereka sudah dewasa, berusia 30an, akan tertawa malu sendiri mengingat ngingat bagaimana dia dulu menulis sms, status facebook, nulis surat, dll., semuanya dalam bahasa 4lay.

Ngerti kan maksudku?

Fakta, bahwa umumnya, yang namanya bahasa manusia, tentu saja perlu suara, untuk diucapkan dan didengarkan. Pengucapan pada awalnya, dituliskan berikutnya. Bukan sebaliknya. Seperti dalam ilmu Sejarah.  Pra Sejarah dulu baru masuk ke jaman Sejarah.

 

Menelisik Akar “Bahasa Alay”

Written By Mang Raka on Rabu, 07 November 2012 | 14.00

 

Tak muda, tak tua, semua sudah ikut-ikutan berbahasa alay. Tidak di rumah, di kampus, di tempat kerja, angkutan umum, bahkan di sekolah. Kata-kata seperti “ciyus?” “miapah?” “macacih?” sudah tak asing lagi di telinga.

Fenomena apakah ini? Rekan korespondensi saya yang berprofesi sebagai peneliti di Balai Bahasa Yogyakarta mengatakan bahwa setiap generasi memiliki penanda pada gaya berpakaian dan gaya bicara, termasuk gaya bahasa seperti bahasa alay itu. Gaya bahasa semacam itu sebetulnya sudah muncul sejak zaman dulu. Istilahnya bahasa prokem, bahasa gaul, atau bahasa slang. Tiap zaman memiliki gaya bergaul yang berbeda dengan bahasa gaul yang berbeda pula.
Pada era 80-an sampai 90-an, kata yang cukup populer adalah “si doi” untuk menyebut pacar, “bonyok (bokap-nyokap)” sebutan untuk orang tua, dan sejumlah bahasa gaul yang diciptakan oleh Debby Sahertian, seperti “akika” artinya saya, “sutralah” artinya sudahlah atau terserah, dan “ember” artinya memang begitu.
Antara SMS, Facebook, dan Twitter
Bahasa gaul paling mutakhir, bahasa alay, ini cukup unik, karena sejarah lahirnya berkaitan dengan perkembangan teknologi komunikasi dan menjamurnya situs jejaring sosial, seperti Facebook dan Twitter. Bahasa alay pertama kali beredar lewat short message service alias SMS. Awalnya, banyak remaja, pelajar SMP dan SMA sering menyingkat kata-kata dan menggantinya dengan angka. Awalnya hal itu untuk menghemat jumlah SMS agar lebih murah. Kalau tidak disingkat bisa dua atau tiga SMS. Sementara kalau disingkat bisa jadi satu SMS saja, jadi lebih murah. Tetapi kemudian bahasa alay berkembang tidak sebatas untuk menyingkat SMS. Ia berubah menjadi ragam bahasa dengan gaya yang “aneh”, terdengar konyol dan dilebih-lebihkan, serta seringkali berkonotasi mengolok-olok.
Contoh bahasa alay di antaranya: “humz” artinya rumah, “ja/ajj” artinya saja, “iank/iang atau eank/eang” artinya yang, “leh” artinya boleh, “ru” artinya baru, “yua/ea/eeaaa” artinya ya atau iya,  “lom/lomz/lum” artinya belum, “abizzz” artinya habis. Belum lama muncul dua kata yang dipopulerkan oleh media sosial Twitter dan iklan di televisi, yaitu “ciyus” dan “miapah”. Dua kata itu plesetan dari kata “serius” dan “demi apa” yang diucapkan meniru orang cadel.
Majalah digital DETIK edisi 48, menyebut kata “miapah” pertama kali digunakan oleh akun Twitter @popokman. Karena dianggap lucu, kata-kata tersebut kemudian menyebar luas karena di-RT (retweet) oleh para followers-nya. Ketika ditayangkan dalam iklan TV, kata tersebut jadi semakin akrab di telinga orang yang bahkan tidak punya akun Facebook atau Twitter sekalipun.
Revitalisasi Pengajaran Bahasa Indonesia
Lantas, apa yang mesti dicermati dari fenomena ini. Sebetulnya tidak ada yang salah dari bahasa slang atau bahasa gaul seperti bahasa alay itu, selama penggunaannya hanya untuk berkomunikasi secara informal. Misalnya, SMS-an ke sesama teman sekolah atau rekan kerja yang selevel. Akan tetapi, ketika seseorang berkomunikasi dengan orang lain yang berbeda secara level usia, jabatan, dan pendidikan, maka sudah sepantasnya bahasa alay itu ditinggalkan. Terlebih lagi kepada guru, atau ketika berada di lingkungan formal semisal sekolah. Di sinilah letak pentingnya revitalisasi pengajaran Bahasa Indonesia. Artinya, di sekolah-sekolah, guru Bahasa Indonesia harus menegaskan kepada peserta didiknya mengenai perbedaan bahasa tulis dan bahasa lisan. Termasuk juga membedakan penggunaannya. Perlu juga disisipkan materi mengenai ragam sejarah bahasa gaul atau bahasa slang agar mereka mengenal asal-usul bahasa yang tengah digandrungi generasinya, tidak sekadar latah ikut-ikutan. Dengan ikhtiar ini, kita berharap generasi penerus bangsa tidak “menelantarkan” Bahasa Indonesia yang baik dan benar, sekaligus juga tidak tertinggal dunia pergaulan teman-teman seusianya. (*)

*)Bangga Heriyanto, S.Sos (Guru MTs. Al-Fathimiyah, Jalan Perum Peruri No.69, Pinayungan, Telukjambe Timur)

 

 

 

 

Leave a comment »